Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

jangankan untuk itu!

sepasang merpati hinggap di tiang listrik tepat di sore hari. diam keduanya, tak jua saling sapa seperti biasanya. tak ada kepala angguk-mengangguk. tak ada lompat kaki kecil, lompat saling mendekat atau pun lompat sebentar menjauh. terpekur keduanya di sana. tak saling pandang, apalagi bercerita tentang pagi dan jelang senja sebentar lagi. hari itu. sepasang merpati memilih diam. sebentar lalu. dengar ucap-ucapan sepasang manusia yang duduk sorong dari tempat keduanya ada. "lihatlah keduanya. katanya merpati tak pernah ingakar janji. selain itu. simbol kesucian dan kesetiaan. moga-moga kita layaknya mereka." tak lama. kedua sepasang manusia berselisih soal mana merpati yang jantan dan betina. tak lama. satu merpati terbang duluan—betina, lalu disusul satu merpati kemudian—jantan. merpati betina berucap. "manusia-manusia keraplah suka melihat apa yang sudah-sudah, terlebih hal-hal yang baik dilihatnya, kemudian diinginkannya. enggan mengerti. jangankan untuk mengerti. me...

soal tak jadi masalah

tampak lantang tiap kata yang terlontar di bibir rekah merah muda miliknya. tajam pula sorot mata yang memandang tiap-tiap sudut ruang baca kalimat dan tanda baca. namun. soal presisi tak mampu dimilikinya. pun dengan makna dan arti tiap-tiap kata yang terangkai apik di julur lidahnya tak sesuai. pada kesesuaian makna dan arti tiap kata yang terangkai liar di hatinya. oleh kedua bola mata cantik dengan warna hitam legam dan kelopaknya yang sayu tak menawan. lupa dengan kemolekan yang tak berias apalagi berpelindung kain saat sempat keluar di hari. senin. kamis. jumat. dan sabtu. berkacak pinggang. tertawa lebar. datangkan yakin soal tak jadi masalah di kemudian nanti ada yang mengenalinya. menurutnya. kedua bola mata dapat diubah sedemikian rupa di bagian warna pupilnya dan warna kelopaknya. dengan cara demikianlah. ia dapat berkilah tentang keluarnya ia di hari. senin. kamis. jumat. dan sabtu. - drew andre a. martin -

—Mungkin

Hari itu. Ia yang merasa segalanya, mulai menampakkan dirinya di hari yang tak dapat dihindarinya. Merasa bahwa segalanya tak akan tampak oleh siapa pun dan merasa dirinyalah mampu sembunyikan segalanya. Sampailah pada waktunya, ia telah lupa akan sesuatu hal. Tak ada yang sempurna dan tak sempurna. Tak ada yang baik dan tak baik. Kedua matanya telah dilukai oleh kepalanya yang keterlaluan banyak inginnya. Kebetulan, mungkin benar adanya. Tak baik memiliki dan memampu-i segalanya yang amat keterlaluan, terlebih kemudian bangkitkan kesombongan yang tanpa disadarinya, perlahan-lahan akan menjatuhkannya; akan memperkeruhnya; akan pula datangkan kebingungan yang—mungkin—keterlaluannya. Bukankah lebih baik jadi sederhana, tetapi bermanfaat; jika dibandingkan menjadi amatlah segalanya dapat, tetapi menghancurkan? - Drew Andre A. Martin -