Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

sunyi ruai sendiri

ingatan ruai olehmu tak juga bergerak apa lagi tergerak kopi di atas nampan  sesap asap dan hangat tubuh sendiri kupersilahkan kau menetap pada kepalaku kuperbolehkan pula kau tinggal lama di detak jantungku tinggalkanmu tak sebanding dengan tinggalkanku malam-malam yang mulanya tak berkelambu abu ubah lalu oleh sunyi yang hebat buat kerontang lalu mari kita tertawa berdua pada tiap waktu sunyi menari jika mari bila pun memang perlu menanyi mari sunyi ialah antara aku dan kau baik di sana pun di sini - Drew Andre A. Martin -

kemarin?

tidakkah ada hari kemarin di hari ini? tidakkah mungkin kemarin datang lagi di hari ini? apakah mereka tak akan kembali seperti kemarin? sebab aku ingin sebentar istirahat dari keramaian dari keramaian yang kerap bangunkan mata dan kepalaku - drew andre a. martin -

Hujan Tahun ini

Hujan pun telah jatuh. Beruntunglah tak sampai bangunkan kenang yang tertidur pulas saat kemarau panjang. Tak buat lolongan perih karena luka yang tiap kali musim penghujan datang. Mungkin, luka yang timbul tiap per semester sekali itu, telah benar-benar telah selesai. Anggap saja begitu. Sebab, hujan di tahun ini, luka itu tak timbul. Hujan pun telah jatuh. Tak ada lagi dua cangkir kopi dan dua piring ketan sambal yang terhidang di atas meja tamu. Tak seperti hujan-hujan lalu. Di tiap bulannya, ada kopi dan ketan sambal. Tidak dengan sekarang. Hanya tersedia satu cangkir gelas berisi air putih. Tanpa ada satu buh pun sebagai cemilan kawan air putih. Itu terhidang dengan sengaja di musim penghujan tahun ini. Agar tidur tak terlalu larut seperti saat-saat musim kemarau. Lagi pula, tak ada yang perlu direnungkan, apalagi dikenang. - Drew Andre A. Martin -

Diam

diam duduk di atas lembar angka dihitungnya satu demi satu lembarnya setetes peluh jatuh di lengan bajunya tersirat senyum penuh dengan bahagia kembang yang layu di dua hari  pada akhirnya satu per satu sumringah tanah yang kering kerontang di dua hari pada akhirnya basah dan menguarkan aromanya - drew andre a. martin -

Sudut Bibir dan Tubuh Pipi

Kata yang sempat terucap Kemudian jelma oleh mata Meringis lalu terbit di sudut-sudut bibir Linang air mata tinggalkan bekas di tubuh pipi Hari-hari tersenyum manis Tatap kata-kata lampau yang kemudian temu di masa kini Diam tak berucap oleh lidah yang diam-diam simpan banyak doa Detik jam berjalan maju terus dan terus Ingin sejenak berhenti lalu berputar lawan arah Ubah sekarang menjadi kemarin Denting jam berbisik dengan maki-makian Mengatai bodoh tolol pada detik jam Ujarnya lagi oleh denting jam Tak usah melawan arus demi memperbaiki takdir Kembali ke sana sama saja kau tak punya harga tentang waktu - Drew Andre A. Martin -

Menguap

tak akan ada lagi kata-kata seperti di lima menit bahkan di masa-masa lampau. semuanya tak lagi riuh seperti dulu. biarkan kata-kata itu menguap, menyublim, yang lalu memberikan keteduhan hati pada waktu yang tak pasti—tak siapapun mengerti. tak akan ada lagi kata-kata seperti di lima menit bahkan di masa-masa lampau. mula yang teramat peduli, kini diam-diam memilih mati, sudah lelah tersakiti, sudah kenyang makan hati, sudah tak mau ambil risiko buat hati ulang-berulang tak dihargai. 

Sebatas Itu

Di bibir kota buru dan jelaga mata rindu  —Kumenanti kabarmu.  Oleh jemari luruh dan tubuh gemuruh —Aku tak bisa memilikimu. Oleh hati yang membiru dan linang mata yang ungu —Aku hanya bisa melihatmu. - Drew Andre A. Martin -

Suara-Suara

telah jadi asing di keramaian suara-suara lantang hilang peduli terhadap diri sendiri yang tak butuh apresiasi apalagi untuk penting sendiri terkesan idealisasi yang arogansi suara-suara lantang menarik perhatian dan simpatisan tawa riang membungkan pilu untuk sementara waktu penting diri sendiri lebih berarti tentang apa di kata nanti-nanti suara-suara lantang sedang mengemis atensi selain meminta-minta apresiasi dengan cara yang elegansi abai dengan mereka hilang peduli abai dengan mereka yang jadi asing - drew andre a. martin -

Letak Jeda

setidaknya titik menjadikan jeda menggantikan koma setidaknya spasi memberikan celah bagi tanda seru dan tanda tanya diam simpan seribu bahasa ramai letak sunyi gemuruh amarah muara emosi tak berarah sedangkan senyum simpul simpan seribu kata selain bahasa - drew andre a. martin -

Nikmati

Nikmatilah detak jantung puisimu yang simpan segala  kebenaran yang hanya kau tahu dengan Tuhan, setelah kau hancurkan dialog juga narasi jelma deskripsi yang membentuk plot juga alur campur. Nikmatilah. Nikmatilah. Nikmatilah. Sebelum tumbuh rumput, ilalang, dan lumut di tulang belulang simpan makna yang teriak sumpah serapah. Matilah. Matilah. Matilah. - Drew Andre A. Martin -

Terima Kasih Untukmu

Kenang-Kenangan itu kuterima dengan baik. Rapi benar kau bungkus dengan kertas kado dan tali dengan miniatur kembang gula di atasnya. Kau berikan pula kecup merah di atasnya.  Tak lupa kau taruh juga sumringah di dalamnya.  Terima kasih, untuk kenang-kenangan bom waktu yang kau tali dengan tali kutang  juga karet kusut kancut merah jambu sayang.  - Drew Andre A. Martin -

Kemarilah

kemarilah, aku terima hujanmu. tak usah kau tahan, setelah sekian lama kau gersang. aku adalah tempatmu pulang bagi dukamu. dan aku adalah pintu saat kau pergi membawa bahagiamu. pun aku adalah jendela ketika kau riang gembira lepas tawa. kemarilah, aku terima hujanmu. buatlah banjir pada sekujur tubuhku. pekikkan raung yang hendak ingin keluar bebas. dekap aku lebih erat bila kau tak kuat lepas amarahmu. hujani aku dengan hujan lebatmu. - Drew Andre A. Martin -

Terus Saja Begitu

Terus saja begitu, tak ada akhir dan berputar mulu-melulu. Titik tak akan berganti koma. Sedangkan koma keraplah berubah-ubah. Kadang dia jelma rehat, pula pernah jadi napas, sempat ubah berupa detak tak pernah tandas meskipun kadang tertindas. Terus saja begitu, tawa sana-sini dan umbar induk juga kalimat. Tebar janji yang tak pasti. Pandai lompat sana-sini. Tak pandai pun tupai melompat, karenalah ia sempat jatuh-terjatuh. Tak cerdaslah kancil lepas dari musuh, karenalah ia paham letak sisi selain sudut ke mana dan di mana letak oleh letak yang tak sembarang tak. - Drew Andre A. Martin -

Kemudian yang Belum Tentu

Bunga di Nirwana, tak lagi indah bagi penduduk di Bumi. Semuanya sama, tak ada beda apalagi terlalu yang spesial. Soal aturan apalagi perihal-perihal yang mula-mulanya mengikat. Kemudian mengenai tentang imbal balas oleh ulur tangan. Makin lama, makin biasa saja hingga timbul kabur hilang fragmentasinya. Tak ada yang beda. Semuanya jelas sama. Tak juga usah banyak debat. Tak juga tinggi cakap. Adakala semuanya susah ditebak. Indah yang belum tentu indah. Buruk yang belum tentu buruk. Buruk yang belum tentu indah. Indah yanh belum tentu buruk. - Drew Andre A. Martin -