Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sajak

benar, benar yang itu, lebih baik itu

tak lagi ada surau seperti masa lalu. syair-syair nan doa pun puji segala puji dilantunkan indah di sana. lahan-perlahan-lahan mata yang khusyuk jelajahi waktu tentang perihal-perihal lalu, tergenangi sedikit demi sedikit oleh hulu air yang terletak di kelopak mata. jatuh perlahan-lahan keluar, buat jalan di pipi. tak begitu deras seperti jatuhnya ia di jantung hati, bikin nyaris banjir, basuh kemudian sembuhkan luka yang masih basah di sana.  tak lagi ada surau-surau seperti masa lalu. ego-ego berdiri tegak meski tak tegal di waktu ini. saling beradu suara merdu melantunkan syair-syair yang dipaksa terdengar merdu, saling beradu, haus hati mereka pinta segera disiram oleh segala macam air apapun itu. doa pun puji segala puji, tak lagi didasari pun sadari oleh keikhlasan, pintanya lebih berlebihan, bila tak sesuai, dalam diam memaki, marah-marah sendiri.  tak lagi ada surau-surau seperti masa lalu. lalu ialah lalu. sekarang tentulah sekarang. perbedaan amatlah lazim terjadi la...

jangankan untuk itu!

sepasang merpati hinggap di tiang listrik tepat di sore hari. diam keduanya, tak jua saling sapa seperti biasanya. tak ada kepala angguk-mengangguk. tak ada lompat kaki kecil, lompat saling mendekat atau pun lompat sebentar menjauh. terpekur keduanya di sana. tak saling pandang, apalagi bercerita tentang pagi dan jelang senja sebentar lagi. hari itu. sepasang merpati memilih diam. sebentar lalu. dengar ucap-ucapan sepasang manusia yang duduk sorong dari tempat keduanya ada. "lihatlah keduanya. katanya merpati tak pernah ingakar janji. selain itu. simbol kesucian dan kesetiaan. moga-moga kita layaknya mereka." tak lama. kedua sepasang manusia berselisih soal mana merpati yang jantan dan betina. tak lama. satu merpati terbang duluan—betina, lalu disusul satu merpati kemudian—jantan. merpati betina berucap. "manusia-manusia keraplah suka melihat apa yang sudah-sudah, terlebih hal-hal yang baik dilihatnya, kemudian diinginkannya. enggan mengerti. jangankan untuk mengerti. me...

soal tak jadi masalah

tampak lantang tiap kata yang terlontar di bibir rekah merah muda miliknya. tajam pula sorot mata yang memandang tiap-tiap sudut ruang baca kalimat dan tanda baca. namun. soal presisi tak mampu dimilikinya. pun dengan makna dan arti tiap-tiap kata yang terangkai apik di julur lidahnya tak sesuai. pada kesesuaian makna dan arti tiap kata yang terangkai liar di hatinya. oleh kedua bola mata cantik dengan warna hitam legam dan kelopaknya yang sayu tak menawan. lupa dengan kemolekan yang tak berias apalagi berpelindung kain saat sempat keluar di hari. senin. kamis. jumat. dan sabtu. berkacak pinggang. tertawa lebar. datangkan yakin soal tak jadi masalah di kemudian nanti ada yang mengenalinya. menurutnya. kedua bola mata dapat diubah sedemikian rupa di bagian warna pupilnya dan warna kelopaknya. dengan cara demikianlah. ia dapat berkilah tentang keluarnya ia di hari. senin. kamis. jumat. dan sabtu. - drew andre a. martin -

Tak Siap

di tiap-tiap tubuh wanita tengah pagi ada luka yang menganga dibiarkan saja dan tetap di pelihara pantang baginya mengerti orang inginnya dipahami orang kata-katanya cukup lantang dan keras giliran kata-kata itu berbalik ke arahnya malah marah sejadi-jadinya tak siap ia menerima segala hal yang ada pada dirinya siapnya menerima apa yang sudah ada - drew andre a. martin -

i

barangkali tak juga mungkin  apa yang telah sudah, tak akan pula berubah macamlah nasi yang berubah jadilah bubur. barangkali jadilah mungkin segala mungkin apa yang telah terjadi, layaknya bubur  yang muasal nasi belumlah terlalu punya cela lalu timbullah sesal yang lalulah terbengkalai. dapatlah segalanya dapat diperbaiki bisalah segalanya bisa dibenahi letak segala muara ada pada titik percaya percaya menetap jadilah apa yang di-iya-i percaya lebur lalu ubah jadilah apa yang di-mau-i. - drew andre a. martin -

Tak Ada

Tak ada lagi yang dapat membasuh duka ini, setelah kau pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan rumah, tubuh, waktu, dan detak jam yang setia di ruang tamu kita. Tak ada kenang-kenangan tentangmu yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan, sejak kepergianmu. Taruh kisah lalu yang tiap-tiap adegan peristiwanya selalu terputar di penghujung kemarau dan awal penghujan. - Drew Andre A. Martin -

Hujan Tahun ini

Hujan pun telah jatuh. Beruntunglah tak sampai bangunkan kenang yang tertidur pulas saat kemarau panjang. Tak buat lolongan perih karena luka yang tiap kali musim penghujan datang. Mungkin, luka yang timbul tiap per semester sekali itu, telah benar-benar telah selesai. Anggap saja begitu. Sebab, hujan di tahun ini, luka itu tak timbul. Hujan pun telah jatuh. Tak ada lagi dua cangkir kopi dan dua piring ketan sambal yang terhidang di atas meja tamu. Tak seperti hujan-hujan lalu. Di tiap bulannya, ada kopi dan ketan sambal. Tidak dengan sekarang. Hanya tersedia satu cangkir gelas berisi air putih. Tanpa ada satu buh pun sebagai cemilan kawan air putih. Itu terhidang dengan sengaja di musim penghujan tahun ini. Agar tidur tak terlalu larut seperti saat-saat musim kemarau. Lagi pula, tak ada yang perlu direnungkan, apalagi dikenang. - Drew Andre A. Martin -

Semua

Semuanya telah kulalui.  Dan aku tak menemukanmu. Semuanya telah kulewati Dan aku tak menemukanmu. Semuanya dan satu per satu kucari dengan amat teliti dan perlahan juga dengan sepenuh hati. Dan aku tak menemukanmu. - Drew Andre A. Martin -

Tetaplah

Masa, tetaplah masa. Benda mati, tetaplah benda mati. Pun dengan hewan, tetaplah hewan. Tumbuhan, tetaplah tumbuhan. Layaknya manusia, tetaplah manusia. Laki-laki, tetaplah laki-laki. Dan perempuan, tetaplah perempuan. - Drew Andre A. Martin -

Pintu

kau pergi? silakan kau datang? silakan pintu ini akan ada bagi siapapun yang tertawa menangis mengumpat oh, tentu saja pintu ini tak akan mempersilakan  semuanya itu masuk meskipun ia bersedia menyambut dengan senyum seraya membetangangkan  kedua lengannya dengan paras dingin walaupun masih tampak senyum sumringah - drew andre a. martin -

Pun Bagaimana

Jika pun rindu, katakanlah dengan segera. Jangan membuatku bingung dengan segala gelagat dan isyaratmu. Bukankah berucap sesungguhnya itu baik, kan? Lantas mengapa kau diam? Ini bukan persoalan siapa dengan siapa dan apa yang harus apa, pun bagaimana yang muncul bersamaan dengan jika atau pun kalau. Drew Andre A. Martin

Perlu Memang

Yang tak bernyawa pun merasakan sakit setelah berpulang ke rumah Tuhan setelah menghadapi sakaratul maut. Perlu memang berdoa untuknya secara berkelanjutan disetiap usai ibadah. Bukan cuma sekadar bela sungkawa saat berduka di hari pertama, tujuh, empat puluh, seratus, dan seribu. -Drew Andre A. Martin-

Kasihan

hanya karangan bunga yang kerap dinantinya. susunan kata-kata yang indah yang ingin didengarkannya. itu-itu saja yang disukainya. bila sebaliknya, justru dia berubah menjadi iblis yang teramat kasihan, jika kau melihatnya. - drew andre a. martin -

Pilih

di sinilah, semua itu terjadi. tak ada yang melihat. lagi pula tak menarik -aslinya sang penonton mencuri-curi tuk melihat sekalian sebagai hiburan di kala hatinya sedang tak berduka. asam tak akan menjadi garam, begitulah juga sebaliknya. yang sudah, maka sudahlah. untuk apa mencari jalan lain, padahal jalan yang telah tampak, telah disediakan -barangkali juga sudah disiapkan. - drew andre a. martin -