Langsung ke konten utama

Postingan

AB-00012. Singularitas Sunyi

Judul: Singularitas Sunyi Penulis: Jajang Fauzi Ukuran Buku: 14,8 x 21 cm | 99 Halaman ISBN 978-634-251-150-3 Tahun: 2026 hampir setiap hari. duka menyigi di cangkir-cangkir kopi ia membuat luka kian menjerit dipecut waktu televisi tak berwarna mengantar bau darah dan pengap mesiu juga debu yang hambur dari atap rumahmu hampir setiap hari. tumpukan roti terkapar lemas menyerap deras air yang menitik dari mata kami ** Kumpulan puisi yang ditulis dengan beberapa penulis yang mengikuti kelas menulis Puisi—Pusi Dalam 6 Pertanyaan. Kelas Menulis Langgam Institut, dengan pemateri Willy Fahmy Agiska. Pada tanggal 09 November 2025. Sertifikat Link Pemesanan buku. Singularitas Sunyi - Pemesan Via Web, Langgampustaka.com Singularitas Sunyi - Pemesanan Via, Shopee
Postingan terbaru

benar, benar yang itu, lebih baik itu

tak lagi ada surau seperti masa lalu. syair-syair nan doa pun puji segala puji dilantunkan indah di sana. lahan-perlahan-lahan mata yang khusyuk jelajahi waktu tentang perihal-perihal lalu, tergenangi sedikit demi sedikit oleh hulu air yang terletak di kelopak mata. jatuh perlahan-lahan keluar, buat jalan di pipi. tak begitu deras seperti jatuhnya ia di jantung hati, bikin nyaris banjir, basuh kemudian sembuhkan luka yang masih basah di sana.  tak lagi ada surau-surau seperti masa lalu. ego-ego berdiri tegak meski tak tegal di waktu ini. saling beradu suara merdu melantunkan syair-syair yang dipaksa terdengar merdu, saling beradu, haus hati mereka pinta segera disiram oleh segala macam air apapun itu. doa pun puji segala puji, tak lagi didasari pun sadari oleh keikhlasan, pintanya lebih berlebihan, bila tak sesuai, dalam diam memaki, marah-marah sendiri.  tak lagi ada surau-surau seperti masa lalu. lalu ialah lalu. sekarang tentulah sekarang. perbedaan amatlah lazim terjadi la...

sunyi ruai sendiri

ingatan ruai olehmu tak juga bergerak apa lagi tergerak kopi di atas nampan  sesap asap dan hangat tubuh sendiri kupersilahkan kau menetap pada kepalaku kuperbolehkan pula kau tinggal lama di detak jantungku tinggalkanmu tak sebanding dengan tinggalkanku malam-malam yang mulanya tak berkelambu abu ubah lalu oleh sunyi yang hebat buat kerontang lalu mari kita tertawa berdua pada tiap waktu sunyi menari jika mari bila pun memang perlu menanyi mari sunyi ialah antara aku dan kau baik di sana pun di sini - Drew Andre A. Martin -

00017. Sekadar Sampaikan

Sudah lama tidak ke sini saat malam hari. Sebab biasanya siang hari. Namun, tidak selepas isya' seperti biasanya. Melainkan ke sana selepas Ashar sampai jelang Isya'.  Di hari itu, tepat di jelang Maghrib, saya berjalan ke salah satu tempat yang biasa saya datangi. Tempat yang juga biasa digunakan sebagai sembahyangan. Di tempat yang tangga kerja yang tersandar di tempat itu, terdapat dua sepuh. Tampak lalu, satu sepuh. Ujar beliau. "Tolong kamu kasih tau J. Agar tangga itu, tidak ditaruh di sini. Sebab di sini juga biasa tempat jujugan untuk persembahyangan." Imbuhnya lagi. "Lihat di sini, di sini beda sama area lain di sebelah sana, situ ..., lebih bersih. Sedangkan di sini, lihatlah sendiri!" "Nanti coba saya pindahkan," ucap saya yang tak berani menatap wajah beliau. Sembari kembali berkata dengan hati-hati, "Mungkin saat hari ini, beliau yang bekerja di sini, kelupaan. Atau memang sudah musim kemarau, daun jatuh lebih banyak di sini....

00015. PesanNya tak Selalu Langsung DariNya

Bukan lagi aroma semilir AC kereta seperti biasanya, melainkan mobil kali ini sebagai transportasi menuju kembali ke Malang. Agaknya, Malang adalah tempat singgah yang meneduhkan selain di rumah sendiri dan Surabaya. Barangkali ada tempat singgah lain nantinya entahlah, biarlah semesta yang bekerja untuk menuntun tunjukkan letak singgah lain yang buat segalanya nyaman untuk sementara dari hiruk pikuk yang sempat buat ramai di kepala. Kali ini, perjalanan kembali ke Candi Singhasari dan Candi Sumberawan. Namun, kali ini tidaklah sendirian. Melainkan bersama empat orang teman, keempatnya saling memiliki keterikatan satu sama lain—sebut saja F1, F2, F3, F4. Tentu, tujuan kami sama. Sama-sama berkunjung ke tempat leluhur, pada tujuan utamanya. Selain tujuan lain, untuk mencari sesuatu yang memang perlu untuk dicari oleh salah dua (F1 san F2) dari empat orang teman.  Pada mulanya, rencana salah satu seorang teman sebut saja F1, berencana untuk bepergian ke beberapa tempat yang terdapat ...

AB-00011. Racikan Doa Pelacur

  Deskripsi Singkat Judul: Racikan Doa Pelacur Penulis: Jajang Fauzi Ukuran Buku: 13 x 20 cm | 363 halaman Tahun: 2025 Kedua mata sayu itu menatap langit-langit musalla dengan penuh nanar, ia berkedip sejenak dan berkata lirih dalam hati, "Tuhan, aku bosan. Setiap hari rutinitasnya hanya itu-itu saja," ia menggerutu setelah ia menuntaskan salat ashar bersama para warga Desa Ndaru Wetan. Tubuhnya gontai, mulutnya masih terkatup dengan berbagai tanya yang masih mengendap di pikirannya. Dia bergegas kembali ke kamar tidur yang penuh dengan tumpukan kitab kuning. Kamar itu tidak hanya sebatas tempat tinggal, tapi ruangan itu adalah kenyamanan. Kenyamanan bagi hati yang sedang gusar dan gelisah. Kumpulan cerpen yang ditulis dengan beberapa penulis yang mengikuti kelas menulis cerpen-romansa dan ironi, Kelas Menulis Langgam Institut, dengan pemateri Agus Noor. Pada tanggal 15 Oktober 2025. Sertifikat Link Pemesanan Buku Racikan Doa Pelacur - Pemesanan Via Web, Langgampustaka.com Ra...

AB-00010. Semesta Ingatan Trauma dan Imaji Kebebasan

Semesta Ingatan Trauma dan Imaji Kebebasan Buku Antologi Puisi yang diselenggarakan oleh Sastra Timur Jawa dalam Temu Karya Serumpun 2025. Diikuti oleh 6 Negara Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, dan Timor Leste. Sertifikat Keikutsertaan Sinopsis dan Link Pemesanan Buku (Klik di Sini)