tak lagi ada surau seperti masa lalu. syair-syair nan doa pun puji segala puji dilantunkan indah di sana. lahan-perlahan-lahan mata yang khusyuk jelajahi waktu tentang perihal-perihal lalu, tergenangi sedikit demi sedikit oleh hulu air yang terletak di kelopak mata. jatuh perlahan-lahan keluar, buat jalan di pipi. tak begitu deras seperti jatuhnya ia di jantung hati, bikin nyaris banjir, basuh kemudian sembuhkan luka yang masih basah di sana.
tak lagi ada surau-surau seperti masa lalu. ego-ego berdiri tegak meski tak tegal di waktu ini. saling beradu suara merdu melantunkan syair-syair yang dipaksa terdengar merdu, saling beradu, haus hati mereka pinta segera disiram oleh segala macam air apapun itu. doa pun puji segala puji, tak lagi didasari pun sadari oleh keikhlasan, pintanya lebih berlebihan, bila tak sesuai, dalam diam memaki, marah-marah sendiri.
tak lagi ada surau-surau seperti masa lalu. lalu ialah lalu. sekarang tentulah sekarang. perbedaan amatlah lazim terjadi layaknya itu di mana pun. oleh usang, pinta segera untuk diusung, kalau perlu dibuang. oleh yang baru, tetap saja itu, kalau perlu lagi yang itu, itu, yang itu, bukan itu, benar, benar yang itu, lebih baik itu.
- drew andre a. martin -
Komentar
Posting Komentar