Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Drew's Wor(l)ds

benar, benar yang itu, lebih baik itu

tak lagi ada surau seperti masa lalu. syair-syair nan doa pun puji segala puji dilantunkan indah di sana. lahan-perlahan-lahan mata yang khusyuk jelajahi waktu tentang perihal-perihal lalu, tergenangi sedikit demi sedikit oleh hulu air yang terletak di kelopak mata. jatuh perlahan-lahan keluar, buat jalan di pipi. tak begitu deras seperti jatuhnya ia di jantung hati, bikin nyaris banjir, basuh kemudian sembuhkan luka yang masih basah di sana.  tak lagi ada surau-surau seperti masa lalu. ego-ego berdiri tegak meski tak tegal di waktu ini. saling beradu suara merdu melantunkan syair-syair yang dipaksa terdengar merdu, saling beradu, haus hati mereka pinta segera disiram oleh segala macam air apapun itu. doa pun puji segala puji, tak lagi didasari pun sadari oleh keikhlasan, pintanya lebih berlebihan, bila tak sesuai, dalam diam memaki, marah-marah sendiri.  tak lagi ada surau-surau seperti masa lalu. lalu ialah lalu. sekarang tentulah sekarang. perbedaan amatlah lazim terjadi la...

—Mungkin

Hari itu. Ia yang merasa segalanya, mulai menampakkan dirinya di hari yang tak dapat dihindarinya. Merasa bahwa segalanya tak akan tampak oleh siapa pun dan merasa dirinyalah mampu sembunyikan segalanya. Sampailah pada waktunya, ia telah lupa akan sesuatu hal. Tak ada yang sempurna dan tak sempurna. Tak ada yang baik dan tak baik. Kedua matanya telah dilukai oleh kepalanya yang keterlaluan banyak inginnya. Kebetulan, mungkin benar adanya. Tak baik memiliki dan memampu-i segalanya yang amat keterlaluan, terlebih kemudian bangkitkan kesombongan yang tanpa disadarinya, perlahan-lahan akan menjatuhkannya; akan memperkeruhnya; akan pula datangkan kebingungan yang—mungkin—keterlaluannya. Bukankah lebih baik jadi sederhana, tetapi bermanfaat; jika dibandingkan menjadi amatlah segalanya dapat, tetapi menghancurkan? - Drew Andre A. Martin -

Esok Tak Berencana

Mengenai esok, tak ada siapa pun tahu. Seakan-akan esok membiarkan semua tingkah laku manusia dan tak pedulikan pada gerak waktu. Tak pernah ada rencana di hari esok. Pun esok tak pernah ada rencana apalagi berencana dan terencana. Esok tetaplah esok. Segala persiapan tak akan oleh siapa pun mampu mempersiapkan. Meskipun tersiapkan, ada saja tak seutuh dan sepenuhnya siap. Siap tak siap, adalah esok. Ketersiap, merupakan esok. - Drew Andre A. Martin -

Pun

Bila pun sendiri adalah cara terbaik. Maka tak juga mengapa. Kalaupun senyum adalah cara akhir dari satu-satunya. Olehnya kan kulakukan. Andai pun berhenti adalah bagian penyelesaian. Karenanya kudiam sebelum lalu kembali bergerak.  - Drew Andre A. Martin -

Berbahagialah

Berbahagialah dengan apa yang kau lakukan, terlebih itu menurutmu baik bagimu, dengan tak mengindahkan tentang apa yang baik belum tentulah baik dan apa yang buruk belum tentulah buruk. Teruskanlah kebahagiaanmu itu. Kalau perlu sampai batas limitnya.  Berbuatlah sesuka hatimu. Menari-narilah di atas penderitaan orang dengan kebahagiaanmu yang menciptakan banyak drama dan logika-logika yang hanya memenangkanmu sendiri. Setidaknya, kau bahagia di waktu yang kau mau. Membuat hatimu berbunga-bunga dengan caramu. Meskipun caramu itu tidaklah baik menurut orang dan baik menurutmu. Teruskan, teruskan bahagiamu. Setidaknya kau menikmatinya di hari ini, sebelum waktu berganti pada chapter yang lalu menjatuhkanmu hingga membuatmu menciptakan drama besar yang lalu sepi penontonnya, akibat mereka tahu tentang siapa kau sebenarnya. Pemain drama hebat, dengan menjatuhkan lawan dengan cara karang-mengarang cerita bahwa kau adalah korbanya—padahal kau pelaku sebenarnya— bukan hebat dengan kualita...

Entah Bagaimana.

Sepertinya, dia yang telah lama tak berkabar sepuluh tahun dan kembali berjumpa pada satu tahun, masih saja seperti dulu kala. Kaki tangan mereka, masih juga sama; cara ucap dan gerak tubuh kepada sedarahnya dan mendiang, juga masih sama—pada akhirnya. Terlebih dia yang tak pernah berubah. Itu jelas amatlah tampak pada akhir-akhirnya. Nyatanya, benar wasiat sang mendiang, agar tak perlu berkabar padanya di detik terakhirnya. Terbukti betul akhirnya. Dia yang lama tak berjumpa, tampaknya hanya sekedar formalitas. Tampak oleh tingkah gerak geriknya yang tak kerasan menunggu di kursi kayu ditemani gemercik air hujan dan gemeringsing angin saat menuju tengah malam ke pagi hari. Hatinya berantakan, ingin segera pulang. Tak sebagaimana pada keseharusannya. Jika memang, masih ada luka, mengapa harus berpura-pura? Mengapa tak juga bertanya sejak awal? Jurus ampuhnya, kenapa dibuang? Pertanyaanya, siapa juga yang membuang? Padahal, dia tahu bagaimana awal ceritanya. Lucunya, tiaplah banyak pert...

Hujan Tahun ini

Hujan pun telah jatuh. Beruntunglah tak sampai bangunkan kenang yang tertidur pulas saat kemarau panjang. Tak buat lolongan perih karena luka yang tiap kali musim penghujan datang. Mungkin, luka yang timbul tiap per semester sekali itu, telah benar-benar telah selesai. Anggap saja begitu. Sebab, hujan di tahun ini, luka itu tak timbul. Hujan pun telah jatuh. Tak ada lagi dua cangkir kopi dan dua piring ketan sambal yang terhidang di atas meja tamu. Tak seperti hujan-hujan lalu. Di tiap bulannya, ada kopi dan ketan sambal. Tidak dengan sekarang. Hanya tersedia satu cangkir gelas berisi air putih. Tanpa ada satu buh pun sebagai cemilan kawan air putih. Itu terhidang dengan sengaja di musim penghujan tahun ini. Agar tidur tak terlalu larut seperti saat-saat musim kemarau. Lagi pula, tak ada yang perlu direnungkan, apalagi dikenang. - Drew Andre A. Martin -

Kadang

Debu pun yang diam-diam membantu, terkadang disalahartikan. Begitu mungkin tentang keburukan. Kerap disalahkan, dipermasalahkan. Lain dengan sepoi angin yang menghilangkan peluh keringan dan sebentar hilangkan dahaga, kerap dimaknai penuh arti. Begitu mungkin tentang kebaikan. Kerap dimaknai, dijunjung tinggi, diindah-perindahkan, walaupun terkadang ia simpan makna tersirat yang kebayakan orang tak begitu tahu, mungkin lebih tepatnya mereka masa bodoh. Karena baik, adalah baik. Buruk, tetaplah buruk. - Drew Andre A. Martin -

Untukmu Nona Belia

Untukmu nona yang masih belia, tak tahu soal banyak kehidupan, berlagak banyak tahu tentang banyak hal. Padahal ada sesuatu yang tak kau ketahui banyak indukmu. Gayamu seperti penengah, tapi kau bukan apa-apa. Lagakmu layaknya preman, petetang-peteteng, siapa yang tak sopan—menurutmu—kau pelototi dengan keempat matamu yang sebetulnya lemah dalam segala hal. Tingkahmu bagaikan super star, merasa kau segala-galanya, siapa yang butuh datang kemari, jika tak butuh buat apa juga melihat apalagi menyapa, menurutmu, kau dibutuhkan oleh mereka-mereka, padahal mereka-mereka itu menjadikanmu sebagai penggenap saja, macamlah sekadar butuh untuk sementara waktu. Gayamu paling tahu tapi tak banyak tahu, suka ngatur tapi enggan diatur, senang menyuruh tetapi tidak mau disuruh, ingin dihormati dan dihargai namun tak bisa. Untukmu nona yang masih belia. Kau tak tahu begitu banyak hal. Namun gayamu seakan tahu banyak hal. Kau pun suka mendengar secara diam-diam, tetapi enggan didengarkan ketika kau ber...

Tetap Sama

dulu, ketika semuanya masih ada, kau anggap mereka tiada. namun, ketika semuanya telah tiada, kau anggap lalu mereka ada. layaknya udara yang tak pernah kau sadari di mana pun kau berada. lalu kau sadari ketika paru-paru kanan dan kirimu berebut udara di saat denyut jantungmu melambat pun ketika terpacu.  pandailah kau berkata-kata pun karang-mengarang cerita yang mula-mula tak ada lalu menjadi ada. tidakkah sedikit kau merasa bersalah atas apa yang mula-mula tiada kemudian menjadi ada. dan kurasa memang kau tak punya itu. sebab kau tahu banyak hal yang tidak diketahui banyak orang. mulanya kukira kau berubah, sebab telah dihantam oleh sang waktu. rupa-rupanya kau masih saja tetap seperti dulu. tak ada sedikit pun berubah layaknya kulitmu yang mulai keriput, gigimu yang tanggal satu demi satu, dan rambutmu yang kemudian didominasi warna putih. tidak dengan bibirmu dan matamu pun cara tingkah lakumu.

Untuk Engkau yang Terhormat

Teruntuk Datuk yang terhormat. Terima kasih telah sedia untuk berbincang walau sejenak. Barangkali seduhan kopi dan teh melati di siang itu tak bisa melegakan suasana hati Datuk yang barangkali sedikit tercengang akibat mendengar gelagar petir di siang bolong yang begitu cerah dan tak juga mendung. Semoga perbincangan yang sangat amat sederhana itu, bisa mendatangkan kebaikan yang lebih-lebih. Tak juga sampai kebaikan dan kepercayaan Datuk tidak lagi disalahgunakan oleh orang-orang yang duduk di meja makan mengunyah permen karet untuk menjaga agar lidahnya lebih lihai dan terlatih dalam soal bersilat. Semoga pula ada per-semester sekali, berenang di air yang sama dan berjalan di daratan pun dataran yang sama, dengan orang-orang yang diberi kepercayaan. Bukankah itu penting, Datuk? Penting untuk menilai kelayakan, apakah orang itu masih bisa dipercaya ... atau ... memang perlu digantikan? Jika Datuk berkawan dengan mereka penopeng, tentu akan dimanjakan dan dijaga hati Datuk dengan sega...

Mungkin Ini Bagian

Tiaplah mendengar suatu komunitas literasi yang amatlah besar itu. Teringat, tentang seorang laki-laki penyair yang berucap tak mengerti soal-menyoal cerita pendek kemudian menjadi penentu dan ikut serta dalam hal-hal cerita pendek. Pun ingat dengan seorang perempuan literasi, meminta saya untuk meminta maaf melalui si laki-laki penyair itu, sedangkan saya tidak ada masalah dengan perempuan itu, justru sebaliknya.  Mungkin ini bagian dari sekelumit kehidupan di muka bumi ini.  Mereka yang tak mengerti apa-apa, kemudian ikut campur pada ketidaktahuannya dengan seraya memekikkan di dalam hatinya seraya mayakinkan, bahwa dirinya layak sebentar sebelum kembali pada ketidaklayakannya. Dan mereka yang menghunuskan mata pisau secara diam-diam nan elok di inti jantung hati, lalu membasuh kedua tangannya, seraya mengatur mimik wajah tentang apa yang tidak dirasakannya, haruslah ada, agarlah terkesan dia yang tertusuk ilusi mata pisau orang lain. Sepasang pemilik mata bisanya hanya mene...

ADAB dan ILMU

banyak orang yang memperdebatkan mana yang lebih penting ADAB DAN ILMU sampai timbul debat kusir bahkan ada yang merangkai keterhubungan apalah arti ADAB tanpa ILMU apalah arti ILMU tanpa ADAB saling berselisih paham mengutamakan salah satunya dan melupakan salah satunya ADAB adalah suatu ILMU dan ILMU mengajarkan tentang ADAB. ADAB memang didapat dari ILMU dan ILMU letak tempat sumber ADAB. Dan KESIMPULANNYA simple. Mereka yang punya ADAB bagus, berarti mereka bukan cuman MENGERTI ILMU-nya melainkan PAHAM. Bukan cuman MEMPERLAJARI ILMU-nya melainkan MEMPRAKTIKAN ILMUyang sudah didapatkannya dengan sebagaimana mestinya dengan sebaik-baiknya. Dengan terus mempelajari ILMU yang sifatnya lentur. Selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. JADI, jika ADAB yang salah, bukan berarti mereka kurang ILMUnya, akan tetapi ILMU yang dipraktikan olehnya bisa saja salah, atau mereka enggan mempraktikan ILMU yang telah mereka pahami (dan pernah diketahuinya saat mereka sedang berilmu/mengilmu). Ya, ...

Terlalu

Mereka terlalu bangga dengan leluhur terdahulunya. Padahal belum tentu leluhur tersebut menyukai cara tindak tanduk mereka. Mereka terlalu bangga dengan leluhur terdahulunya. Sampai mereka terbuai dengan segala apa yang dimiliki oleh leluhurnya tanpa sedikit memikirkan tentang bagaimana jika mereka tidak memiliki leluhur yang sebagaimana disebutkannya itu. Mereka terlalu bangga dengan leluhur terdahulunya sampai mereka lupa bagaimana cara menghormati dan menghargai leluhurnya sendiri dengan caranya sendiri. - Drew Andre A. Martin -

Apapun

Iblis adalah ahli dalam segala apapun, karena dia ahli ibadah. Sehingga sangat mudah mengganggu manusia. Saya rasa itu adalah pemikiran kuno. Karena saya rasa manusia adalah makhluk sempurna —punya daya pikir yang tinggi baik logika, penalaran, dan perasaan— setidaknya tidak semudah itu jatuh pada bujuk rayu pada ahli daripada ahli sang iblis. Sebab sudah dibekali tentang apa saja bahaya sang iblis. Jika terperosok, bukan berarti manusia itu bodoh atau masih punya hubungan dengan iblis. Bisa jadi manusia itu keingintahuannya tinggi. Bisa jadi manusia itu sudah dipenuhi oleh nafsu duniawi yang menggairahkan denyut nadi dan jantung. Bisa jadi manusia itu sudah tak memiliki tujuan. Bisa jadi kau adalah sebab manusia itu melakukan hal yang tidak perlu dia melakukan hal yang telah dia lakukan.  Dajjal sangatlah populer. Kehadirannya kerap dinantikan oleh para makhluk bawa tanah. Namanya kerap diucap oleh manusia yang merasa paling sempurna untuk ditujukan pada manusia yang dirasa tak pu...

Timbul

Selalu ada banyak kata indah yang terucap dari bibirnya. Harapannya membuat hati seseorang tenang. Akan tetapi, apa yang diucapnya itu, kadang tak sesuai dengan apa yang ada di kepala maupun hatinya. Oleh karenanya, timbullah kesia-siaan lantaran dia sedang mencari amannya tanpa ada sedikit risiko. - Drew Andre A. Martin -

Jika Pun

Ada kalanya kau mendengarkan mereka yang sedang bercerita. Ada kalanya kau membantunya memberikan saran atau masukan selain kritik ketika memang membutuhkan —jika dirasa tidak, mungkin mereka butuh didengarkan. Jangan sampai kau malah adu nasib, apalagi mengubah cerita itu menjadi ceritamu. Sebab itu tidak disarankan.  Jika pun, kau ingin juga bercerita. Carilah waktu yang tepat disaat obrolan yang sedang berlangsung. Kalau, ternyata ketika kau bercerita dan kerap kali yang kau ajak cerita dengan lekas dia yang ingin bercerita —terjadinya pengalihan cerita, ke ceritanya— maka yang perlu kau lakukan adalah diam dan segera carilah teman untuk bertukar cerita dan tahu di mana waktunya dia jadi pendengar, kau yang bercerita; dan; dia yang bercerita  kau yang jadi pendengar. Apakah menghindar, dari teman yang tak bisa diajak gantian menjadi pendengar dan pencerita? Tentu tidak perlu. Dan kau harus mengerti, bahwa temanmu yang begitu adalah dia pencerita, kurang bisa menjadi pendeng...

Ada Pentingnya

Ada kalanya kita memberikan ruang baginya untuk menyalahkan kita. Agar segalanya lekas selesai, meskipun ada rasa yang kurang mengenakkan. Namun, percayalah, hanya itu saja yang bisa mendatangkan kebaikan. Soal salah benar, biarkanlah. Terpenting kau sudah melakukan apa yang harus kau lakukan, ya sudah. Kembali selesaikan yang memang harus diselesaikan. Beri perhatian pada yang seharusnya diberi perhatian. Bukankah begitu seharusnya? - Drew Andre A. Martin -

Bukanlah Suatu Perkara

Lucunya. Kau tahu itu, tetapi kau seakan tak mau tahu. Kau sumpal telingamu dengan nilai rupiah yang kau reguk darinya. Kau tutup bibir jantung hatimu dengan kegelimangan indahnya pantai, gunung, laut, hutan yang kau dapat darinya yang sudah jelas kau tahu bahwa masalah dari segala masalah adalah dia. Tetapi, bukanlah suatu perkara. Sebab tanpanya, kau kosong, hina dina, tak dapat menikmati semua yang kau ingin, kan? Apalagi mungkin, kau masih butuh kegelimangan, butuh segala-galanya bebas biaya atau mungkin pangkas biaya untuk penghematan. Bukankah lebih baik kau memilih bersama, ketimbang hanya memilihnya? Tak perlu kau berucap bahwasannya lebih baik dengannya, ketimbang bersama lainnya yang tak jelas. Akan tetapi, tak ingatkah kau tentang apa-apa yang ada di dua pundakmu? Tak merasakah, atas apa-apa yang kalian perbuat? Mereka semua memiliki mata yang digunakan untuk melihat dan telinga untuk mendengar pun memilah. Mereka bukan lagi bocah yang kau anggap bocah. Mereka bukan lagi ten...