Hari itu. Ia yang merasa segalanya, mulai menampakkan dirinya di hari yang tak dapat dihindarinya. Merasa bahwa segalanya tak akan tampak oleh siapa pun dan merasa dirinyalah mampu sembunyikan segalanya. Sampailah pada waktunya, ia telah lupa akan sesuatu hal. Tak ada yang sempurna dan tak sempurna. Tak ada yang baik dan tak baik. Kedua matanya telah dilukai oleh kepalanya yang keterlaluan banyak inginnya. Kebetulan, mungkin benar adanya. Tak baik memiliki dan memampu-i segalanya yang amat keterlaluan, terlebih kemudian bangkitkan kesombongan yang tanpa disadarinya, perlahan-lahan akan menjatuhkannya; akan memperkeruhnya; akan pula datangkan kebingungan yang—mungkin—keterlaluannya. Bukankah lebih baik jadi sederhana, tetapi bermanfaat; jika dibandingkan menjadi amatlah segalanya dapat, tetapi menghancurkan?
- Drew Andre A. Martin -
Komentar
Posting Komentar