Langsung ke konten utama

00003. Situs Joko Dolog



Situs Joko Dolog, terletak di Surabaya Jawa Timur. Di situs ini terdapat beberapa arca dan arca utama, yakni arca sebagai perwujudan dari raja terakhir kerajaan Singhasari, sebagai Budha Mahaksobhya. Nama raja tersebut, Kertanegara yang bergelar Abhiseka Sri Maharajadiraja Kertanegara Wikrama Dharmmottunhgadewa. Ayah dari Gayatri, mertua dari Rasen Widjaya, pendiri kerajaan Majapahit. Serta memiliki cucu yang terkenal di masa kejayaan Majapahit yang bernama, Tribhuwana Wijayatunggadewi. Juga cicit yang membawa kerajaan Majapahit menjadi negeri besar dan digdaya, Prabu Hayam Wuruk. 


Ada beberapa persepsi mengenai penemuan arca ini. Pertama, informasi yang ada, arca tersebut ditemukan di Trowulan dari Desa Kandang Gajah. Kedua, mengatakan bahwa arca tersebut adalah arca dari Candi Jawi yang hilang dengan ditemukan sisa ukiran relief yang juga terdapat di sekitaran situs Joko Dolog. Pada alas arca, terdapat prasasti dengan tulisan dan bahasa Sansekerta yang dinamakan sebagai Prasasti Wurare, berisi 19 bait yang mengandung lima makna sejarah yang berkembang pasa saat itu. Perebutan kekuasaan kerajaan yang dimiliki Prabu Airlangga yang kemudian dipecah menjadi dua, Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu. Yang pada akhirnya, oleh Raja Kertanegara disatukan menjadi satu keutuhan sebagaimana pada kemuasalan sebelum terpecah menjadi dua.

Saat masuk ke dalam area tersebut, di sisi kanan dan kiri, saat hendak masuk menuju ke arca utama, terdapat berbagai macam arca-arca yang berdiri berjejer di sana. Terdapat pula dua lingga yoni ukuran sedang, terletak di bagian kanan dan kiri. Dalam agama hindu, lingga yoni merupakan simbol sakral. Lambang penyatuan antara Dewa Siwa (Lingga) dan Dewi Parwati (Yoni). Pun pula memiliki makna persatuan lingga dan yoni jiga sebagai lambang penyatuan antara Purusha (kesadaran murni) dan Prakritri (materi), serta penciptaan dan regenerasi alam semesta.  

Arca joko dolog, memiliki cerita lain di Jawa Timur. Cerita yang dikemas dalam perhelatan kesenian. Sehingga, banyak orang yang tahu tentang arca Joko Dolog, berasal dari cerita lain kala itu. Tak banyak yang tahu, kalau arca tersebut merupakan arca perwujudan raja terakhir Singhasari. Sebagaimana yang diketahui oleh almarhum nenek saya. Beliau sangat antusias bercerita panjang lebar ketika ditanya tentang siapa sosok joko dolog. Di usianya yang sudah menyentuh angka delapan, saya mengajak beliau sebentar mampir ke situs Joko Dolog. Awalnya saya kira, beliau sudah pernah melihat. Namun, saat berada di lokasi, ucap beliau, "Baru kali ini, aku tahu dan melihat sendiri arca itu." Di sana tidak berhenti mampir, hanya sekali lewat dan berhenti di atas motor, lalu lanjut ke tempat lokasi tujuan utama. Di sepanjang perjalanan, beliau amat kagum. Sumringah bahagia agaknya. Ucap itu berulang kali diucapkan. 

"Seumur-umur, dari cerita yang kudengar dari radio, dari cerita orang tua tentang joko dolog yang dikemas dalam tontonan seni ludruk,  dari cerita mulut ke mulut, baru kali pertama, aku bisa melihatnya sangat dekat. Bukan lagi dari gambar yang pernah aku lihat saat masih zaman muda."
Saya pun berkata. "Aku kira, sudah pernah ke situs tadi. Habis, setiap kali bercerita seperti sudah pernah datang ke sana."
Timpal beliau. "Menceritakan sesuatu hal, dengan antusias bukan berarti pernah datang ke lokasi. Itu akibat, rasa yang diceritakan oleh orang tua dan teman kawanku, kuterima dengan baik oleh panca inderaku. Sehingga, ketika aku menceritakannya kepadamu lagi, aku menceritakan sebagaimana yang tertinggal dan terkenang pada panca inderaku."
Oh, begitu rupanya, sahut saya.
"Zaman sekarang, anak-anak muda mana mau merespon cerita bersejarah dengan gunakan panca inderanya, panca indera lebih suka dipakai untuk merespon informasi negatif dan hal-hal keintiman saja. Respon sejarah? Mereka hanya sebatas mendengar, lalu hilang. Jangankan ditaruh, kilas balik untuk menceriakan ulang saja, tentu tidak mungkin."
"Iya sih."
"Zaman sekarang, orang yang banyak tanya akan dianggap merasa malas mencari. Parahnya lagi, dibilang, jangan minta disuapin. Inisiatif, cari sendiri!"
"Sepakat!" seru saya.
"Padahal, kita sebagai orang tahu, setidaknya memberitahu apa yang mereka ingin tahu, bukan malah mengerdilkan hati mereka. Mereka perlu disuapin. Tenang aja, mereka yang disuapin itu kelak akan mandiri mencari sendiri pada hitungan waktu yang tepat."
Saya berdehem. Seraya berkata dalam hati. Alamat, pembicaraan akan panjang lebar dan kemana-mana.
"Lalu kalau kita meminta mereka jalan sendiri, mencari tahu sendiri, di mana peran kita sebagai orang yanh sudah dewasa, yang sudah tahu beberapa hal, sudah juga makan garam? Apa dibiarkan, sampai garam itu menumpuk menimbun kita? Toh enggak, kan? Minimal apa yang kita tahu, setidaknya kita bisa memberi tahu mereka. Nggak guna dong, pengalaman kita kalau cuman kita simpen sendiri tanpa kita share? Tugas kita, sebagai manusia, juga berbagi kebermanfaatan pesan dan kesan pada pengalaman hidup, agar hal-hal yang baik dari diri kita bisa menjadi panutan. Bukan cuman berbagi kebermanfaatan uang saja! Ada uang, kamu disayang. Gak ada uang, ya kamu dilupakan, diabaikan dan kemungkinan buruknya kamu akan dibuang dari orang-orang yang melihat segalanya dari uang."
Benar 'kan, perbincangan semakin ke mana-mana. Saat itu, beliau masih bercerita banyak di sepanjang perjalanan menuju lokasi utama. Sebenarnya menuju lokasi utama, tidak begitu jauh. Hanya saat itu, saya ingin ajak beliau jalan malam dengan motor kelilingi Surabaya. Ke situs Joko Dolog, Grahadi, Alun-Alun Surabaya, Museum Kapal Selam, Kali Mas. Sekedar lewat saja, tidak mampir. Karena waktu itu malam hari. Hendak saya ajak beliau ke tugu pahlawan. Agaknya tidak memungkinkan, karena sempat terdengar keluh beliau capek di atas motor. Olehnya, urung jalan ke tugu pahlawan. Mungkin nanti saja, sembari mampir ke Alun-Alun Surabaya. Namun, waktu rupanya tidak mengizinkan. Beliau berpulang ke rumah Tuhan, kembali pada kemuasalannya. 

Mengenai kisah arca Joko Dolog yang diketahui oleh almarhum nenek saya dari cerita ibu dan kawan juga teman sebayanya, itu adalah sosok Jaka Taruna yang dikutuk oleh Adipati Jayengrana, menjadi patung Joko Dolog akibat berbuat curang saat mengikuti sayembara.

Alkisahnya begini—alkisah cerita rakyat di Jawa Timur.
Putri Purbawati, putri dari Adipati Jayengrana hendak dipersunting oleh Pangeran Situbondo. Mendengar berita itu, Putri Purbawati gelisah, karena dia sudah menjalin asmara dengan pangeran Kediri yang bernama Jaka Taruna. Putri Purbawati tak bisa menolak, karena dia takut hubungan kadipaten Surabaya dan Madura akan menjadi berselisih nantinya. Mengingat ayahnya, Adipati Jayengrana bersahabat baik dengan ayah Pangeran Situbondo, Adipati Cakraningrat. Hingga pada akhirnya, Putri Purbawati memberi syarat kepada Pangeran Situbondo, untuk membuka hutan yang terkenal angker di wilayah Surabaya, untuk kemudian nanti dijadikan tempat tinggal mereka dan keturunan mereka. Tanpa banyak bicara, Pangeran Situbondo, menerima syarat tersebut dengan keyakinan, kesaktian yang dimilikinya akanlah mampu membuka hutan yang terkenal angker tersebut.

Saat membuka hutan angker tersebut, Jaka Taruna yang waktu itu tiba di Surabaya, tahu kalau ada pangeran yang berasal dari Madura sedang membuka lahan hutan. Ditanyai lah, mengapa membuka lahan hutan. Setelah mengetahui jawaban, kalau itu adalah bagian dari syarat mempersunting Putri Purbawati, bergegas kemudian Jaka Taruna pergi menemui Adipati Jayengrana. Mengatakan, bahwa dia telah menjalin cinta yang sudah lama dengan putrinya. Mendengar ucapnya itu, adipati menjadi bingung. Putri Purbawati, langsung saja meminta Jaka Taruna ikut serta membuka lahan, sebagai syarat dapat mempersuntingnya.

Bergegas Jaka Taruna kembali ke hutan angker tersebut. Dia membuka bagian hutan di samping lahan hutan yang sedang dibuka oleh Pangeran Situbondo. Melihat apa yang dilakukan Jaka Taruna, Situbondo pun bertanya ada apa gerangan membuka hutan di sampingnya. Jaka Taruna pun memberitahu. Mendengar kabar itu, Situbondo menjadi marah. Hingga terjadilah pertarungan sengit. Hingga pada akhirnya Jaka Taruna kalah, dia terpental setelah dipukul oleh kesaktian yang dimiliki Situbondo. Tersangkut tubuh Jaka Taruna di pohon. Tak ada yang membatunya, meskipun dia berteriak sangat kencang. Di sana dia sendirian, ditinggalkan Situbondo. Tak ada seorang pun berani masuk ke hutan tersebut, karena hutan tersebut terkenal keangkerannya.

Hingga pada suatu waktu, ada seorang pemuda yang mendengar teriakan minta tolong. Pemuda itu, bernama Jaka Jumput. Pada akhirnya, Jaka Jumput menolong Jaka Taruna. Selesai ditolongnya, Jaka Taruna memberi tawaran mengabulkan apapun yang diinginkan oleh Jaka Jumput, asal dengan satu syarat. Meminta untuk mengalahkan Pangeran Situbondo. Tawaran tersebut diterima oleh Jaka Jumput. Jaka Jumput pun, langsung menemui Situbondo. Ditantangnya duel, Situbondo oleh Jaka Jumput. Situbondo yang merasa marah karena dirinya ditantang oleh orang baru untuk duel, akhirnya diiyakan. Terjadi pertarungan sengit antara keduanya. Situbondo yanh kewalahan menghadapi kesaktian pemuda Jaka Taruna yang sakti mandraguna, langsung melarikan diri ke arah timur dari kadipaten Surabaya. Ke wilayah yang sekarang dikenal sesuatu dengan namanya, Situbondo.

Jaka Taruna yang melihat Situbondo kalah, bergegas dia menemui Adipati Jayengrana dan Putri Purbasari, mengatakan kalau dia telah berhasil mengalahkan Pangeran Situbondo. Tak lama kemudian, Jaka Jumput datang ke Kadipaten Surabaya, menemui Jaka Taruna. Saat mengetahui, Jaka Taruna mengatakan kalau dia yang telah mengalahkan Situbondo, Jaka Jumput pun geram. Segera dia mendatangi Adipati Jayengrana, dikatakannya kalaulah dia yang mengalahkan Situbondo, bukan Jaka Taruna. Jaka Taruna, mengelak, mengatakan kalau pemuda yang bernama Jaka Jumput itu berbohong. Adipati Jayengrana, bingung mana keduanya yang benar. Pada titik akhirnya,  Adipati Jayengrana meminta bukti, siapa yang mengalahkan Situbondo. Jaka Taruna, diam tak berkutik. Sedangkan Jaka Jumput, langsung mengeluarkan sebilah keris milik Pangeran Situbondo. Jaka Taruna yang merasa malu, hingga pada akhirnya Jaka Taruna mengajak duel tarung adu kesaktian dengan Jaka Jumput. Tawaran itu bukan cuman disambut Jaka Jumput, melainkan pula diiyakan oleh Adipati Jayengrana. Ujarnya, baiklah, siapa yang memenangkan pertarungan ini, maka kuperbolehkan mempersunting putriku, Purbawati.

Duel pun terjadi. Keduanya mengeluarkan kesaktiannya masing-masing. Jaka Taruna menggunakan sebilah keris miliknya. Sedangkan Jaka Jumput menggunakan senjata cambuk yang dia beri nama, Kyai  Gembolo Geni. Awalnya pertarungan berjalan seimbang. Sampai akhirnya, cambuk Jaka Jumput mengenai tubuh Jaka Taruna, sehingga Jaka Taruna jatuh dan tergeletak di tanah tak berdaya. Adipati Jayengrana yang melihat itu, kecewa dengan kebohongan Jaka Taruna. Hingga pada akhirnya, mengutuk .Jaka Taruna menjadi patung. Dan patung itu kemudian dinamakan patung Joko Dolog. 

Begitulah alkisahnya. Alkisah yang pada kemudiannya, menjadi sebuah cerita rakyat di wilayah Jawa Timur. Meskipun pada kenyataannya, arca Joko Dolog, adalah arca peninggalan di masa kerajaan Singhasari dan Majapahit. 

"Sekarang sudah tahu 'kan, kalau arca itu arca perwujudan dari raja Singhasari yang terletak di Malang," sempat saya berkata pada nenek saya.
Kata beliau, "Tapi cerita yang kudengar tidak begitu."
Tak panjang lebar, saya menghargai. Tak memaksa untuk mengiyakan apa yang tampak pada kenyataannya. Sebaik-baiknya cara adalah, membiarkan cerita rakyat, memilih arah jalannya; dan membiarkan kenyataan yang diam meringkuk menafakuri diri, sampai menunggu waktu bagi kenyataan untuk menampakkan dirinya sesuai dengan ketepatan waktu dan harinya, adalah cara terbaik. Cara untuk hindari timbul suatu perdebatan yang memang kadang tak perlu didebat. Kalah menjadi abu, tak untung; menang menjadi api, tak juga untung.



_______

Bait 19 Prasasti Wurare
(Sumber: Wikipedia)

  1. adāu namāmi sarbājñaṃ, jñānakayan tathāgataṃ, sarwwaskandhātiguhyasthani, sad-satpakṣawarjjitaṃ.
  2. dan atas sarwwasiddhim wā, Wande'hang gaurawāt sadā, çākakālam idaṃ wakṣye, rajakïrttiprakaçanaṃ.
  3. yo purā paṇḍitaç çreṣṭha, āryyo bharāḍ abhijñātah, jñānasiddhim samagāmyā, bhijñālabho munïçwarah.
  4. mahāyogïçwaro dhïrah, satweṣu kāruṇātmakah, siddhācāryyo māhawïro rāgādikleçawarjjitah.
  5. ratnākarapramāṇān tu, dwaidhïkṛtya yawāwanlm, kṣitibhedanam sāmarthya, kumbhwajrodakena wai.
  6. nrpayoṛ yuddhākaiikṣinoh, estāsmaj janggalety eṣā, pamjaluwiṣayā smṛtā
  7. kin tu yasmāt raraksemām, jaya-çrï-wiṣnuwarddhanah, çrï-jayawarddhanïbhāryyo, jagannāthottamaprabhuh
  8. ājanmapariçuddhānggah, krpāluh dharmmatatparah, pārthiwanandanang krtwā, çuddhakïrttiparākramāt
  9. ekïkrtya punar bhümïm, prïtyārthan jagatām sadā, dharmmasamrakṣanārtham wā pitrādhiṣthāpanāya ca
  10. yathaiwa kṣitirājendrag, çrï-hariwarddhanātmajah, çrï-jayawarddhanïputrah, caturdwïpegwaro munih
  11. ageṣatatwasampürnno, dharmmāgastrawidam warah, jïrnnodhārakriyodyukto, dharmmagasanadecakah
  12. çrï-jnānaçiwabajrākya, çittaratnawibhüsanah, prajñāragmiwiçuddhānggas, sambodhijñānapāragah
  13. subhaktyā tam pratiṣthāpya, swayaṃ purwwam pratiṣthitam, çmāçane urarenāmni, mahākṣobhyānurüpatah
  14. bhawacakre çakendrābde, māse cāsujisaṃjñāke, pañcaṃyām çuklapakse ca, ware, a-ka-bu-saṃjñāke
  15. sintanāmni ca parwwe ca, karane wiṣtisaṃskrte, anurādhe'pi naksatre, mitra ahendramandale
  16. saubhāgyayogasaṃbandhe, somye caiwa muhürttake, kyāte kuweraparwwege tulārāçyabhisaṃyute
  17. hitāya sarbasatwānām, prāg ewa nrpates sadā, saputrapotradārasva kṣityekibhāwakāranāt
  18. athāsya dāsabhüto'ham, nādajño nama kïrttinah, widyāhïno'pi saṃmuḍho, dharmmakriyāṣw atatparah
  19. dhārmmadhyakṣatwam āsādya, krpayaiwāsj'a tatwatah, sakākalam sambaddhatya, tadrājānujnayā puñah

Terjemahan

1. Pertama-tama aku menghormati Sang Tathagata, yang mahatahu dan perwujudan semua pengetahuan, yang tersembunyi di dalam semua unsur (skandha) dan yang tidak berasosiasi dengan segala sesuatu yang ada maupun yang tidak ada.

2. Berikutnya saya hormati, dengan penuh rasa hormat, kesuksesan universal dan akan (kemudian) menceritakan (sejarah berikut yang berhubungan dengan) era Saka yang menggambarkan kejayaan raja-raja.

3. Bharad yang terhormat, penguasa di antara para resi dan orang terpelajar terbaik, yang, di zaman dahulu, melalui pengalamannya, memperoleh (kesempurnaan) pengetahuan dan dengan demikian memperoleh kemampuan-kemampuan supranatural (abhijna).

4. Siapakah pemimpin para yogi agung, yang tenang dan penuh kasih sayang terhadap makhluk hidup, yang merupakan guru Siddha, seorang pahlawan agung dan yang terbebas dari noda keterikatan, dan sebagainya.

5-6. Yang membagi dua tanah Jawa yang seluas lautan, dengan kendi air (kumbha), vajra , dan air yang memiliki kekuatan membelah bumi dan (memberikannya kepada) kedua pangeran yang, karena permusuhan, bertekad untuk berselisih - oleh karena itu Jangala ini dikenal sebagai Pamjalu vishaya.

7-9. Namun, setelah itu, Raja Jayasrivisnuvardhana—yang bersuamikan Sri Jayavardhani, penguasa terbaik di bumi, yang suci jasmani sejak lahir, yang welas asih dan sepenuhnya mengabdikan diri pada Dharma, yang menyenangkan para penguasa lain melalui ketenaran dan keberaniannya—kembali menyatukan negeri ini untuk menyenangkan rakyatnya demi menegakkan Dharma dan menegakkan leluhurnya, serta memerintahnya (dengan adil).

10-12. Sang resi raja bernama Sri Jnanasivavajra, putra Sri Harivardhana dan Sri Jayavardhani, adalah penguasa empat pulau, penuh dengan pengetahuan tak terbatas, adalah yang terbaik di antara mereka yang mengetahui Hukum dan merupakan pengajar kitab hukum, yang pikirannya adalah perhiasan permatanya dan yang bersemangat untuk melakukan pekerjaan perbaikan (lembaga keagamaan), yang tubuhnya disucikan oleh sinar kebijaksanaan dan yang sepenuhnya menguasai pengetahuan sambodhi - bagaikan Indra di antara para penguasa bumi.

13-17. Setelah mendirikan dengan penuh bakti patung beliau (yaitu, sang raja?) yang telah ditahbiskan (sebagai raja?) dalam wujud Mahakshobhya, pada tahun 1211 Masehi di bulan Asuji (Asvina), pada hari yang dikenal sebagai Pa-ka-bu, hari kelima dari paruh terang (bulan itu), di parvan bernama Sinta dan karana vishti, ketika nakshatra Anuradha berada di bola Indra, selama Saubhagya yoga dan Saumya muhurta dan di Tula rasi - demi kebaikan semua makhluk, dan yang terutama, demi kebaikan raja beserta istri, putra, dan cucunya, karena telah menyatukan kerajaan.

18-19. Saya, hamba beliau (yaitu raja) yang rendah hati, yang dikenal dengan nama Nadajna, dan meskipun bodoh, kurang terpelajar, dan kurang tertarik pada amal saleh, diangkat hanya melalui karunia beliau sebagai pengawas ritual keagamaan, telah menyusun deskripsi ini atas perintah Vajrajnana.


- Selesai -

- Drew Andre A. Martin -



Komentar

  1. Enak rek, sambil berjalan sambil meneguk air kehidupan nenek moyang...
    Aku sering penasaran, dimana ya sekarang keturunan singhasari..? Termasuk juga keturunan kerajaan Jenggala sidoarjo...hehehehe

    BalasHapus
  2. Nah itu, aku juga kurang tau, Kak. Mampir kak Situs Joko Dolog, Surabaya, atau kalau lagi ke Singhasari, mampir ke Candi Singhasari, syahdu dan enak sekali suasana di sana.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

AB-00010. Semesta Ingatan Trauma dan Imaji Kebebasan

Semesta Ingatan Trauma dan Imaji Kebebasan Buku Antologi Puisi yang diselenggarakan oleh Sastra Timur Jawa dalam Temu Karya Serumpun 2025. Diikuti oleh 6 Negara Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, dan Timor Leste. Sertifikat Keikutsertaan Sinopsis dan Link Pemesanan Buku (Klik di Sini)

00001. Candi Singasari dan Candi Sumberawan

Memang bukan kali pertamanya ke Singasari, Malang, Jawa Timur. Mungkin kali ketiganya, di tanggal 11 Januari 2024, merupakan kali keempatnya. Namun, sebelumnya pernah berkunjung ke Arca Dwarapala Kembar, Pemandian Ken Dedes (Petirtaan Watu Gede), dan Candi Sumberawan, tetapi tak sempat berkunjung ke Candi Singasari sebab terhalang oleh waktu setiap kali berkunjung ke Singasari Malang.  Hingga pada akhirnya, penantian yang sangat lama untuk berkunjung ke Candi Singasari terlaksana pada tanggal 11 Januari 2024. Tidak hanya bahagia saja yang ada, melainkan juga rasa yang berkecamuk yang tak keruan karena pada akhirnya akan dan segera menginjakkan kaki dan melihat Candi Singasari. Tepat di tanggal 11 Januari 2024, saya pun langsung ke stasiun pemberangkatan menuju ke stasiun tujuan. Pada jam 07.00 WIB sampailah di tujuan Stasiun Singasari. Karena jam buka candi di Google jam 08.00 WIB, saya pun menunggu di dalam stasiun sembari mencharge handphone. Jam kemudian menujukkan pukul 08.00 W...