Bukan lagi aroma semilir AC kereta seperti biasanya, melainkan mobil kali ini sebagai transportasi menuju kembali ke Malang. Agaknya, Malang adalah tempat singgah yang meneduhkan selain di rumah sendiri dan Surabaya. Barangkali ada tempat singgah lain nantinya entahlah, biarlah semesta yang bekerja untuk menuntun tunjukkan letak singgah lain yang buat segalanya nyaman untuk sementara dari hiruk pikuk yang sempat buat ramai di kepala. Kali ini, perjalanan kembali ke Candi Singhasari dan Candi Sumberawan. Namun, kali ini tidaklah sendirian. Melainkan bersama empat orang teman, keempatnya saling memiliki keterikatan satu sama lain—sebut saja F1, F2, F3, F4. Tentu, tujuan kami sama. Sama-sama berkunjung ke tempat leluhur, pada tujuan utamanya. Selain tujuan lain, untuk mencari sesuatu yang memang perlu untuk dicari oleh salah dua (F1 san F2) dari empat orang teman.
Pada mulanya, rencana salah satu seorang teman sebut saja F1, berencana untuk bepergian ke beberapa tempat yang terdapat di Kediri. Sebab tampak dan terasa, memang ada suatu pula yang harus dituntaskan di Kediri. Pada akhirnya pun saya mengiyakan dengan berkata, tinggal berkabar saja kalau memang ke sana, bersama dengan saya nantinya, selesai dia berucap berencana untuk ajak saya ke sana. Berjarak pada menit ke lima, jelang sore hari, F1 bercerita tentang cerita F2 yang hendak melakukan observasi di suatu tempat untuk keperluan data pada penelitian tugas akhir. Berceritalah, F1 dengan perlahan dan step by step. Mula-mulanya, F2 memang ingin melakukan penelitian di CJT sampai di suatu ketika keduanya sempat ke sana dengan orang lain (sebut saja Z) untuk bertujuan menggali sedikit tentang informasi di tempat sana. Data primer dan sekunder, barangkali sudah dimiliki oleh F2, tetapi karena F2 butuh data lain yang bersifat tracking, menjelajah ke masa lampau dengan cara perjalanan spiritual, maka jalanlah kemudian F1 dan F2 ke CJT. Nyatanya, bukan hanya di CJT, saja, melainkan juga ke CB. Karena menurut orang lain, pun dengan F1 dan F2, ada data yang tertinggal di sana dalam bentuk dimensi waktu lain. Imbuhnya lagi, di CJT dan CB memiliki keterkaitan dan keterikatan. Saya pun sepakat, karena berdasarkan historial cerita yang terangkum pada literasi yang ada, memang punya keterikatan di masanya. Cukup menarik juga, mencari puing-puing data, yang tertinggal di sana dalam bentuk dimensi waktu, dan itu kedengarannya tidaklah asing atau pun aneh oleh kedua telinga saya. Sebab kadang, cara itu juga dilakukan oleh beberapa orang. Namun, saya sarankan pada F1 dan F2, saat mendapati suatu data di dimensi waktu lampau tersebut, usahakan untuk tetap kroscek pada data yang literasi yang tersedia, baik di suatu jurnal, buku, atau pun narasumber yang perlu mungkin untuk ditanyai. Sebab, ini adalah tentang suatu penelitian tugas akhir.
Kembali bercerita F1 tentang perjalanan ke CJT dan CB. Saat itu, kali pertama saat pertemuan kami, di siang jelang sore hari, saya hanya bertemu dengan F1 di kedai kopi. Pertemuan F2 kala itu hanya melalui telepon WhatsApp.
"Aku sudah ke sana, cukup terjal." Sedikit F1 bercerita tentang kodisi perjalanan menuju ke lokasi. "Ada juga ucap salam dan semacam bagian daripada permisi untuk meminta izin untuk diberitahu tentang dimensi waktu yang tertinggal di masa lalu, dengan tokoh A."
"F1 ikut, proses tersebut, 'kan? Kalau F2 nggak perlu saya tanya, pasti melalukan proses tersebut, karena dia yang membutuhkan beberapa data tersebut."
"Iya, benar sekali."
Perbincangan mengalir apa adanya. F1 bercerita tentang apa saja yang dilakukan di sana. Mulai dari awal sampai akhir. Saat semuanya selesai, saya sedikit tercengang melihat sesuatu hal yang harus dilakukan, tetapi tidak dilakukan. Kemudian coba tanya ke F1.
"Nah itu, aku nggak tau yah. Karena aku cuman ngedampingin aja, F2 sama si Z. Selebihnya aku nggak tau, karena fokusku ke arah lain." Tidak menyalahkan juga. Barangkali, F1 ingin melihat diorama waktu lain, yang tentu berbeda dengan F2 yang memang perlu cari data masa lampau tersebut. "Pengenku kan, langsung ke kediri. Siapa tau di sana akan dapat data yang lebih clear. Karena di sana, kurasa ada pusat tempat beliau A berada." Sambung F1 lagi.
"Sebentar, sebentar." Saya meminta jeda sementara waktu. Dalam diam, dengan pandangan kosong yang tak kosong, kemudian saya mendapati sesuatu hal untuk kemudian mengurungkan ke Kediri.
"Kalau saran saya, lebih baik melakukan penelitian tugas akhirnya tentang Candi Brahu. Kalau di CJT, datanya akan sulit, dan di sana secara energi, untuk mencari data A, akan susah. Karena di sana ada beberapa time line waktu yang berbeda-beda. Si A pun tidak juga menetap di sana. Agaklah sulit. Apalagi, tidaklah begitu luas, jika kemudian dibuat penelitian untuk tugas akhir. Secara energi, berat. Secara informasi, literasi, dokumen-dokumen yang ada, kemungkinan sedikit."
F1 berucap. "Iya, apalagi saat proses ACC untuk penelitian di CJT, kurang disetujui. Sebab menurut orang yang bertugas ACC tersebut, merasa bahwa dokumen, informasi sangat minim dan terlalu jauh. Jadilah, pada akhirnya, disarankan untuk masuk ke pariwisatanya."
"Oh, begitu. Iya sih, benar sekali. Akan terasa berat. Karena merasakan saja, aku udah ngerasa berat."
"Seharusnya, 'kan nggak apa-apa yah. Kan lebih baik."
"Iya F1, akan lebih baik begitu. Dan, kembali lagi. Si F2 mau gimana. Tetap di lokasi pertama atau di Candi Brahu nantinya. Semua balik, ke dia. Aku, tidak bisa memaksa. Aku hanya memberikan second choice aja. Tetep di lokasi pertama, nggak apa-apa. Mau ganti ke Candi Brahu, juga tidak apa-apa. Barangkali jurnal dan informasi-informasi tentang CJT udah didapatnya, dan sayang kalau diubah, atau sia-sia waktu jadinya, saat diubah."
"Sebentar, aku telponin si F2."
Terdengar samar tut WhatsApp. Saya meraih segelas teh, kemudian meneguknya.
"F2, ini aku 'kan ketemu sama Drew, sambil menceritakan tentangmu. Sarannya, kamu diminta untuk mengubah, ke Candi Brahu."
"Hah?!" Terdengar suara F2, karena saat itu diloud speaker.
"Bukan, bukan keharusan untuk diubah," jawab saya coba menenangkan.
"Nih, kamu bicara langsung sama Drew, biar lebih jelas, dan saat kita jumpa di rumah nanti, kamu tidak bingung tanya-tanya ke aku, dan aku tidak bisa menjelaskan."
Ponsel F1 diberikan kepada saya. F2 pun bercerita tentang apa-apa saja saat dia bersama F1 dan Z, di CJT dan CB.
"Kalau dariku, di Candi Brahu, karena mungkin tidak sesulit di CJT. Karena kurasa di sana agak berat secara energi. Banyak generasi-generasi di sana, bukan cuman di zaman A."
"Iya, aku ngerasa berat sekali. Dan di sana aku nggak bisa fokus."
"Beda 'kan saat kamu di CB? Di sana kurasa lebih enak. Adem, dan energinya mudah untuk diakses."
"Bener, lebih enteng kurasa."
"Di sana ada informasi yang terbuka sebenarnya. Kamu nggak ngeliat? Dan dipersilahkan masuk, sebenernya."
"Oh yah? Bentar deh" F2 mencoba ingat-ingat. "Oh iya, aku ngeliatnya. Cuman, aku nggak masuk." Sambil dia tertawa. Kemudian berkata kalau dia tidak berani masuk, karena salah.
"Tidak diarahkan sama Z?"
"Diem aja sih, Z. Malah dia kroscek ke aku, tentang sesuatu yang terbuka di sana," kata F2 di balik telepon.
"Ooh, begitu."
Ada jeda sebentar.
"Nah, kalau kamu mau tetap, nggak apa-apa, tetap aja. Kalau mau ganti, juga nggak apa-apa."
"Aku ikutin apa aja sih." Nada bicara F2 agak sedikit ragu.
"Sebenarnya ada, tempat yang enak untuk ambil keputusan."
"Di mana?"
"Candi Sumberawan, Malang."
"Tapi, 'kan di sana era Singhasari, 'kan? Nggak ada keterkaitan dengan A."
Saya lalu menjelaskan lagi. "Memang, tidak ada kaitannya. Namun, di Candi Sumberawan, lokasinya terbuka, udara di sana juga segar. Dengan meditasi di sana, kamu akan dapat berpikir dengan baik untuk dapat memutuskan yang perlu kamu putuskan. Karena kamu, kurasa bingung saat ini, mau ganti, atau tetap."
"Iya, sih. Aku ngikut aja deh."
"Jangan ngikut."
"Nggak apa-apa, berangkat ajalah." Sahut F1 yang saat itu duduk di depan saya.
Mendengar suara F1 di balik telepon. "Oke, kita berangkat."
"Baik, nanti soal tanggal biar ditentukan sama F1 yah."
Jawab F2. "Oke."
Telepon mau diakhiri. Kemudian saya berujar lagi. "Tunggu, ada beberapa yang harus kamu lakukan selama 3 hari." Saya menjelaskan apa saja yang harus dilakukan dan dipersiapkan. Sembari memberi tahu, bahwa itu tidak ada kaitannya dengan hal-hal mistis, melainkan itu persiapan agar saat melakukan meditasi di sana, guna ambil keputusan bisa lebih mudah nanti di sana.
"Oke ..., oke."
"Yaudah yah, udah jelas?"
Setelah menjawab, jelas. Saya kembalikan telepon ke F1.
F1 kemudian menentukan tanggal keberangkatan. Saya pun mengatakan, untuk sebentar bagi kami mampir ke Candi Singhasari. Saya pun memberikan saran untuk mengurungkan ke Kediri, sementara waktu. F1 mengiyakan, dan berkata, mungkin bulan depan saja ke Kediri, yah. Jawab saya, terserah aja, mau berangkat kapan nantinya.
Rencana keberangkatan kami, mulanya pagi. Namun, akhirnya perjalanannya dimulai siang hari, jam 11.30 WIB. Di sepanjang perjalanan, berdoa saya, agar tak terburu-buru nantinya, karena jam operasional candi, akan berakhir pukul 16.00 WIB. Akhirnya sampai di lokasi, Candi Singhasari, sekitaran pukul 13.30 WIB. Gegas kami berempat, saya, F1, F2, F4, langsung masuk ke dalam Candi Singhsari. Izin ke juru pelihara, lanjut ke kamar mandi untuk bebersih, untuk bersuci diri. Kemudian naik ke candi, karena tujuan kami religi, di sana. Untuk naik, di Candi Singhasari, dengan tujuan religi, kalian bisa laporan dulu tentunya ke juru pelihara, jika kemudian diperbolehkan, alas kaki kalian, wajib untuk dilepas. Sebab selain tempat suci, gesekan alas kaki kalian (sepatu atau sandal), akan merusak tekstur batuan candi. Masuk ke dalam candi. Kami duduk bersama di sana. Berdoa kemudian sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Tak lupa berdoa pada Tuhan, dan leluhur. Tak lupa juga berdoa pada diri sendiri. Setelahnya kami bermeditasi sebentar di sana, sebentar lalu me time dengan diri dan Tuhan. Tak terasa, waktu berjalan 30 menit lamanya. Tepat di menit itu, kami selesai. Turun dari candi, sembari ucap terima kasih lada leluhur, karena telah memperkenankan masuk, ucap terima kasih juga pada Tuhan, yang telah melancarkan kegiatan kami saat itu. Saat kaki, baru melangkah keluar dari tangga paling bawah candi, sepintas kemudian terdengar pesan. "Semoga dimudahkan, segala urusan yang hendak dilakukan di tempat berikutnya." Ulas senyum oleh saya, sembari berucap dalam hati, "Terima kasih."
Perjalanan, kemudian lanjut ke Candi Sumberawan. Butuh waktu 15-20 menit, untuk kemudian sampai di sana. F1, menyarankan cari makan dulu. Sedangkan saya, menyarankan, langsung aja. Karena kita terburu oleh waktu, pukul 16.00 WIB, candi tutup. Sesampainya di Candi Brahu. Kami berempat kemudian berjalan, masuk ke dalam. F3, tidak ikut masuk, sama seperti di lokasi Candi Singhasari. Masuk ke dalam area candi, pukul sudah menunjukkan 15.00 WIB. Kami lekas-lekas mempersiapkan diri. Tak lupa juga membersihkan diri, mensucikan diri, di dua sendang yang ada di sana. Sendang Drajat dan Sendang Kamulyan. Untuk bebersih sendiri, kami butuh waktu 15-20 menit. Kami pun tergopoh-gopoh di sana. Saya mencoba kemudian tenang dan menenangkan, seraya berkata, semoga dimudahkan oleh Tuhan. Gegas lalu, kami duduk di sekitaran candi, di letak duduk yang sesuai dengan ingin kami. Hal serupa yang kami lakukan di Candi Singhasari dan di candi-candi lainnya. Meminta izin pada leluhur, berterima kasih pada leluhur. Berdoa kemudian sesuai dengan kepercayaan masing-masing, mendoakan lalu leluhur-leluhur kita dan leluhur ada di sekitaran atau di dalam candi, lalu berdoa pada Tuhan, dan mendoakan diri sendiri. Setelahnya, bermeditasi. Tak lain dan tak bukan, meditasi ini adalah meditasi untuk ketenangan diri sendiri, meditasi menyelami banyak pertanyaan-pertanyaan, kemudian mengharapkan jawaban. Tentulah tak lain dan tak bukan, harap segala jawaban itu, kami harapkan pada Tuhan. Baik pada Tuhan secara langsung; atau pada Tuhan melalui leluhur; atau pada Tuhan melalui cara semesta yang menyampaikannya melalui perpanjangan tangannya, melalui apa yang kita dengar, apa yang kita lihat, atau melalui orang lain. Olehnya, butuh bagi kita akan kesadaran dan kepekaan kita untuk menerima darimana pesan Tuhan disampaikan.
Waktu sudah menunjukkan, 16:00 WIB, meditasi kami selesai akhirnya. Saya pun bertanya, pada F2. Bagaimana, sudah menemukan jawabannya? Jawab F2, sudah, dengan mimik wajah yang agak bimbang.
"Ada apa?"
"Memang sepertinya harus CB." Nada bicaranya menurun.
"Saranku, kalau dapatnya CB, mau ganti CB, kalau mau silakan. Tapi, kalau mau CJT, juga tak mengapa. Semisal mungkin sudah punya banyak referensinya."
"Ngikut aja sih, yang mana."
"Loh jangan ngikut, harus yakin."
Tak lama, ada begitu banyak rombongan wisatawan yang berdatangan di Candi Sumberawan, untuk sembahyangan di sana. Tampak mereka berjumlah banyak, berdatangan kemudian mengatur posisi duduk masing-masing, lalu mengucap doa, yang dipimpin oleh pemuka agama mereka.
Mendapati hal itu, ada rasa bahagia dari saya, bahagia lantaran pasti masih ada beberapa waktu lagi. Oleh saya, sarankan pada F2, untuk coba lagi meditasi, coba untuk lebih tenang olah napasnya, berdoa lebih dalam, meminta untuk memantapkan hatinya lagi atas apa yang didapat, apa yang kemudian dipilih.
Tak lama kemudian, meditasi F2 selesai. Bersamaan selesainya, rombongan orang-orang sembahyangan. Harusnya candi jam tutupnya pukul 16.00 WIB, lalu menjadi 16.30 WIB. Rasa syukur kami tumpah ruah, dapat tambahan waktu 30 menit berkunjung di sana. Karena, waktu datang di Candi Sumberawan, kesorean.
"Tetap, CB."
"Yakin bakal ambil CB?"
"Semoga saja, aku yakin." Jawaban F2 agak yakin, jika dibandingkan jawaban pertamanya.
Setelah semuanya selesai, kami pun beranjak keluar dari Candi Sumberawan, setelah ucap terima kasih pada para leluhur, pun Tuhan.
Berjalan lalu, kami berempat menuju ke mobil. Sesampainya di mobil, F1 lalu bertemu dengan salah seorang yang punya nama besar di sana. Berbincanglah lalu, kami berlima dengan orang tersebut.
"Iya nih, Bu. Bingung mau ambil apa, CJT atau CB. Untuk penelitian tugas akhirnya," cerita F1 pada kenalannya.
"Kalau aku sarankan nih, ambil aja CB. Karena itu mungkin akan lebih mudah jika dibandingkan CJT"
Saya dengan F2 saling pandang, dan tertawa kecil. "Ya, karena kalau CB, literatur, informasi-informasi, akan mudah didapat, jika dibandingkan CJT." Kurang lebih kata ibu tersebut nyaris sama yang saya ucapkan saat saya dengan F1 bertemu di kedai.
Dalam hati saya berkata, bisa jadi ini adalah cara Tuhan menyampaikan pesanNya juga, melalui perantara si ibu tersebut.
"Nah, tinggal F2 nih, mau gimana nantinya?" tanya F1.
"Mungkin, berubah. Ambil CB. Gimana lagi, dapatnya CB," ujar F2 dengan rasa yang sedikit tampak pasrah, oleh saya.
Perbincangan pun mengalir ke sana-sini dengan ibu kenalan F1. Sampai-sampai tak terasa, waktu yang mula sore, menjadi malam yang sedikit gelap di sana, sebab lampu-lampu di sekitar sana, cukup minim.
Beranjak pergi meninggalkan lokasi Candi Brahu, untuk kemudian mencari makan. Di sepanjang perjalanan, mencari makan sampai perjalanan pulang, kami saling bertukar cerita tentang pengalaman masing-masing yang tidak bisa saya ceritakan terlalu banyak di sini—mungkin dilain kesempatan.
"Kamu tau? Gara-gara si F1, meditasiku terhenti sejenak, waktu di Candi Singhasari," ujar saya.
"Bagaimana bisa?" tanya F1.
"Gimana enggak, situ sibuk sendiri, memvidio sesuatu di sana. Hmmm."
"Hehe, maaf-maaf. Karena aku rasa, aku harus mengabdikan momen."
"Besok semisal ada kesempatan seperti ini lagi, saat masing-masing sibuk berdoa, sibuk bermeditasi, jangan diulang lagi yah." Saran saya, dengan sedikit gurauan.
"Iya, iya. Maaf yah." F1 yang berucap sambil tertawa renyah. Sedangkan F2, lebih banyak dia di sepanjang perjalanan selesai makan, menuju pulang. Entah, barangkali mungkin, F2 mempersiapkan rencana-rencana jika memang CB kemudian diambil olehnya. Atau mungkin, F2 juga lelah, karena sudah banyak refrensi yang didapat, harus dikubur, dan mencari lagi dan lagi tentang lokasi yang baru, CB. Untuk kemudian dikelola ulang data-datanya.
"Nggak usah dipikir. Jalani aja dulu. Kalau yakin CB, besok cari-cari sumbernya, selesaikan dulu. Lalu berkunjung ke narasumbernya untuk melengkapi data, guna penelitian tugas akhir," kata saya.
"Dibuat santai aja," imbuh F1.
- Selesai -
Drew Andre A. Martin






Komentar
Posting Komentar