Setelahnya selesai menuntaskan menikmati Water Toren Djember, tanpa mampir ke warung kopi terdekat, lanjutlah saya ke perjalan berikutnya ke Titik Nol Jember dan Alun-Alun Jember. Karena ingin lekas kembali ke Stasiun Jember melihat awan makin gelap dan aroma tanah basah sebelum hujan turun dan bahasa angin yang berlarian lembut nan santun juga aduhai, menandakan hujan sebentar lagi turun. Perjalanan masih sama, menggunakan moda transport motor, ojek online.
Tentulah sendiri ke alun-alun. Jalan sendirian, ternyata juga mengasyikkan. Bisa bebas ke mana-mana semau diri, tanpa sungkan kawan apalagi lelah melihat wajah kawan yang simpan banyak berjuta makna, karena diri yang kadang asik sendiri di suatu tempat yang dikunjungi dan segala hal yang sudah direncanakan sejak awal, sejak sebelum berada di lokasi yang dituju.
Menarik juga nyatanya, Alun-Alun Jember. Terdapat empat tugu (maaf kalau penyebutan saya keliru), didesain dengan desain yang berbeda-beda. Mulanya saya kira, sama. Dan sekilas bila tampak depan, Alun-Alun Jember akan tampak seperti biasa. Namun, ketika kalian mengelilingi alun-alun tersebut, saya pastikan kalian akan terkesima dengan tata letak, desain alun-alun yang amat cantik, detail, rapih, dan juga rekam historis tentang nama-nama orang-orang penting yang pernah menjabat di Kota Jember, yang dipahat di suatu bangunan bersemen dengan ukuran sedang di sana. Mulanya saya kira, hiasan saja. Namun, bukan sekedar hiasan. Melainkan tokoh-tokoh penting pejabat tinggi di kota Jember. Tertulis di sana, nama-nama dari beliau-beliau yang pernah menjabat, beserta tahun menjabat. Di sisi lainnya, kosong tak ada nama, saya rasa (maaf bila keliru), mungkin itu nantinya akan dipersiapkan untuk tokoh pejabat tinggi yang purna tugas. Jember, merekam tokoh-tokoh penting di bagian alun-alunnya. Selain simpan sejarah tokoh-tokoh dan peristiwa penting di masanya, di kala kerajaan Majapahit masih berdiri waktu itu.
Di sekitarnya, ada banyak tanaman, pepohonan yang juga tertata dengan rapi. Di bagian ujung alun-alun terdapat LCD yang sangat besar di sana. Waktu saya tanya ke bapak ojek online—satu-satunya orang yang kerap saya tanyai di sepanjang perjalanan dan setelah sampai di lokasi—selesai ada acara di hari sabtunya. Untuk lokasi, Titik Nol, tak jauh dari alun-alun. Sampai kau menemukan tulisan Titik Nol, maka di situlah letak titik nol, yang letaknya di depan rumah warga. Dan di depan titik nol terdapat masjid yang juga menarik untuk dikunjungi. Ada pun bangunan yang tak kalah indahnya, bangunan yang bernama Jember Nusantara.
Setelahnya selesai memutari alun-alun, hendaklah saya berencana kembali ke stasiun. Namun, apa dikata. Hujan pun langsung turun sangat deras dengan matahari yang sibakkan awan dengan sorot terik cahayanya yang menguning, tetapi tak begitu panas. Seakan menahan saya sebentar untuk berdiam diri di alun-alun sambil menikmati suasana di sana dan menjajal jajanan pedagang yang berjualan di sana. Di dalam benak, saya berbicara sendiri. Berbicara tentang ucap terima kasih pada Tuhan, dan pada bagian tubuh Jember yang saya singgahi, karena mengizinkan saya singgah sebentar di sana. Sambung saya. Tidak bisa berlama-lama. Mohon izinkan saya bergegas untuk kembali lanjutkan perjalan ke stasiun Jember, meskipun nanti kereta yang saya naiki pukul 20.00 berangkatnya, tak apa-apa saya menunggu di saja sejak pukul 15:00 sembari melepas penat dan kembali menikmati kopi dingin yang dijual di toko. Tak berselang lama, hujan pun reda. Matahari masih menampakkan dirinya. Kembali ucap terima kasih oleh saya. Hujan menjadi titik-titik pada derai airnya. Segera order ojek online untuk tujuan ke Stasiun Jember. Nyatanya, bapak ojek online yang saya pesan kali ketiganya ini, adalah bapak ojek yang sama, bapak ojek online kedua saat saya pesan untuk antarkan saya dari Water Toren Jember ke Alun-Alun Jember.
Segera kemudian saja naik ke motor, untuk menuju ke Stasiun Jember. Matahari kembali menenggelamkan dirinya di antara kumpulan awan yang menghitam lagi. Doa saya, jangan hujan dulu. Tunggu sampai saya sampai di Stasiun Jember. Dan syukurnya, sesampai di stasiun, tak hujan. Baru kemudian hujan selepas maghrib saat saya meminum kopi latte, kopi ke tiga, setelah kopi mocca, dan ice roast. Rupanya kopi, tak dapat buat mata terjaga, disaat tubuh benar-benar inginkan jatah istirahatnya. Sebab di acara yang saya ikuti, waktu istirahat saya 1,5 jam. Selain tidak bisa tidur, malam itu mendengar kisah, pengalaman, pelajaran hidup, orang-orang yang sudah banyak makan garam.
Tentang Jember. Kota yang nyaman, teduh, dan ramah untuk warga-warga lokalnya. Balas salam senyum, ketika kita sapa dengan senyuman. Jember, kota yang juga simpan sejarah di waktu masa penjajahan dan kerajaan. Jember, juga ada candi, kata seseorang. Sayangnya, saya tak bisa mampir ke sana. Karena jaraknya yang amat jauh, dan kata seseorang tersebut, bila memang mau ke candi, bermalam minimal tiga hari. Karena jauh dari lokasi yang saat itu saya datangi.
Di sepanjang perjalanan pulang di dalam kereta Probowangi, saya masih bertanya-tanya tentang kata bapak ojek yang sama itu. Saat saya tanya, apakah ada bangunan situs sejarah dan peninggalan belanda di sekitaran terdekat dari Stasiun Jember? Kata bapak, untuk situs sejarah saya kurang tahu untuk disekitar sini. Tapi kalau bangunan tinggalan yang bernuansa Belanda, ada. Bangunannya ada di bagian depan stasiun. Tanya saya ketika sampai di stasiun, apakah itu, Pak? Jawab beliau, bukan, melainkan di bagian sana. Dan saya, tidak menemukan bangunan tersebut. Hanya menemukan bangunan lawas, yang terpelihara dengan baik tepat di depan saya melepas lelah dan penat menunggu kedatangan Probowangi, sejak pukul 15:00-20:00 WIB.
- Selesai -
- Drew Andre A. Martin -
Jember, aku hanya semalaman bersamamu...mungkin esok, kau akan kembali memanggilku, dan memelukku.
BalasHapusSemoga Jember, mengiyakan pada doa dan harap Kakak, padanya.
Hapus