Langsung ke konten utama

00011. Water Toren Djember

Siang menjelang sore. Cuaca juga bersahabat kala itu. Tidak terlalu panas dan mendung yang tak juga hujan. Angin pun juga berembus semilir-semilir. Hari itu, Minggu. Selesai menghadiri acara yang bermakna di Kota Jember, mampirlah saya ke situs bangunan di zaman penjajahan Belanda di negeri kita yang dahulu bernama Hindia-Belanda. Bangunan yang masih berdiri kokoh di sana, dan bangunannya cukup megah. Lumayan terawat, meskipun ada satu pemandangan yang agak menganggu, terdapat satu banner promosi yang dipaku di sana. Namun, masih bisa dinikmati keindahan pada bangunannya yang masih terjaga dan terawat. Letaknya di sekitaran pasar. Dan bahu jalan. Bangunan tersebut yakni bernama, Water Toren Djember. Tak lupa, mampir sebentar ke toko, untuk membeli dua kopi. Untuk membuat diri dan mata terjaga. Beruntungnya, dapat sedikit membantu rasa kantuk, meskipun pada akhirnya kantuk tetaplah kantuk, ia tak bisa diajak untuk terjaga pada waktu yang terlalu lama.

Sewaktu memandangi bangunan tersebut, ada anak tangga yang mengarahkan ke arah tuju pintu utama untuk kemudian mungkin ke arah anak tangga. Namun hendak naik ke atas, datang bapak-bapak pedagang sekitar yang selesai menata jualannya dan selesai sortir tomat, berkata beliau, kalau tidak bisa masuk ke sana. Karena pintu dikunci dan digembok. Katanya lagi, coba naik ke tangga situ saja. Akan sedikit terlihat bagian tengahnya, tetapi tak bisa melihat seutuhnya sampai ke ujung Water Toren, karena terhalang oleh atap—atap tempat pedagang yang berjualan di lantai dua.

Memang mungkin tak menarik bagi sebagian orang yang berkali-kali melewati bangunan tersebut. Bisa jadi karena sudah berkali-kali lewat di sekitaran bangunan itu, dan sudah sering melihat, menikmati bangunan di tersebut. Suasana di sana, cukup rindang. Ada banyak pepohonan yang nyaman untuk tempat teduh saat siang dengan terik matahari di jam 12:00. Pun di sana juga tentunya banyak pedagang-pedagang yang berinteraksi dengan penjual untuk menjalankan roda perekonomian pasar dan pribadi.

Ada kejadian yang sedikit timbulkan cerita kala itu, bila diingat. Kejadian antara saya dengan bapak ojek online yang antarkan saya ke Water Toren Djember. Di sepanjang perjalanan, saya berbincang dengan bapak tersebut perihal, bagaimana dan di mana Water Toren Djember itu. Pun bertanya, tentang apakah Alun-Alun Jember dekat dengan Water Toren Djember dan apakah ramai dengan pengunjung saat siang hari. Bapak ojek online tersebut, dengan kebaikan hati dan inisiatifnya langsung melewatkan saya ke Alun-Alun Jember. Katanya, "Hanya begini saja mas kalau siang. Tak begitu ramai pengunjung, hanya pedagang yang bersiap-siap menyiapkan dagangannya. Sebetulnya ada tempat yang menarik Mas, di sini."

"Oh, ya? Di mana, Pak?"
"Di Universitas Jember. Di sana ada pameran otomotif. Kebetulan hari ini, adalah hari terakhir pameran digelar di sana. Barangkali, Mas mau berpindah tujuan ke pameran otomotif, mungkin?"
"Tetap saja Pak, ke Water Toren."
"Itu cuman bangunan aja loh, Mas. Tempatnya juga di sekitaran pasar," kata bapak ojek online yang menyarankan saya kembali untuk melihat pameran otomotif. Bisa jadi maksud bapak, ada tontonan yang lebih spektakuler yang amat sayang bila dilewatkan. 
Saya berkata tidak, tetap lanjut saja ke Water Toren Djember.  Tujuan utama dari awal, adalah lokasi tersebut. Selain Titik Nol Jember dan Alun-Alun Jember. Sesampainya di lokasi, benar saja. Bangunan tersebut berada di sekitaran pasar. Dan siapa pun yang mencari bangunan itu, pasti akan cepat menemukannya. Karena saat turun dari depan pintu pasar, bangunan tersebut sudah menampakkan dirinya.

Bangunan yang apik, kokoh, dan menawan. Sangat memanjakan siapa pun yang penikmat bangunan lawas, penyuka peninggalan di zaman sejarah, dan penikmat waktu lampau yang dapat memasuki masa-masa itu. Masa, lalu lalang pekerja pribumi dan Belanda, mulai saat membangun bangunan tersebut, sampai pada perawatan dan pengoperasiannya. Sungguh diorama yang sangat menawan sekali di zaman Hindia-Belanda. Namun, jangan tanya tentang bagaimana diorama ketika bangunan itu ditinggalkan oleh sejarah silam. Mengenai diorama-diorama itu, tidak saya posting di dalam postingan ini. Mungkin akan ada di postingan lainnya, mungkin.


- Selesai -

- Drew Andre A. Martin -






Komentar

Postingan populer dari blog ini

AB-00010. Semesta Ingatan Trauma dan Imaji Kebebasan

Semesta Ingatan Trauma dan Imaji Kebebasan Buku Antologi Puisi yang diselenggarakan oleh Sastra Timur Jawa dalam Temu Karya Serumpun 2025. Diikuti oleh 6 Negara Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, dan Timor Leste. Sertifikat Keikutsertaan Sinopsis dan Link Pemesanan Buku (Klik di Sini)

00003. Situs Joko Dolog

Situs Joko Dolog, terletak di Surabaya Jawa Timur. Di situs ini terdapat beberapa arca dan arca utama, yakni arca sebagai perwujudan dari raja terakhir kerajaan Singhasari, sebagai Budha Mahaksobhya. Nama raja tersebut, Kertanegara yang bergelar Abhiseka Sri Maharajadiraja Kertanegara Wikrama Dharmmottunhgadewa. Ayah dari Gayatri, mertua dari Rasen Widjaya, pendiri kerajaan Majapahit. Serta memiliki cucu yang terkenal di masa kejayaan Majapahit yang bernama, Tribhuwana Wijayatunggadewi. Juga cicit yang membawa kerajaan Majapahit menjadi negeri besar dan digdaya, Prabu Hayam Wuruk.  Ada beberapa persepsi mengenai penemuan arca ini. Pertama, informasi yang ada, arca tersebut ditemukan di Trowulan dari Desa Kandang Gajah. Kedua, mengatakan bahwa arca tersebut adalah arca dari Candi Jawi yang hilang dengan ditemukan sisa ukiran relief yang juga terdapat di sekitaran situs Joko Dolog. Pada alas arca, terdapat prasasti dengan tulisan dan bahasa Sansekerta yang dinamakan sebag...

00001. Candi Singasari dan Candi Sumberawan

Memang bukan kali pertamanya ke Singasari, Malang, Jawa Timur. Mungkin kali ketiganya, di tanggal 11 Januari 2024, merupakan kali keempatnya. Namun, sebelumnya pernah berkunjung ke Arca Dwarapala Kembar, Pemandian Ken Dedes (Petirtaan Watu Gede), dan Candi Sumberawan, tetapi tak sempat berkunjung ke Candi Singasari sebab terhalang oleh waktu setiap kali berkunjung ke Singasari Malang.  Hingga pada akhirnya, penantian yang sangat lama untuk berkunjung ke Candi Singasari terlaksana pada tanggal 11 Januari 2024. Tidak hanya bahagia saja yang ada, melainkan juga rasa yang berkecamuk yang tak keruan karena pada akhirnya akan dan segera menginjakkan kaki dan melihat Candi Singasari. Tepat di tanggal 11 Januari 2024, saya pun langsung ke stasiun pemberangkatan menuju ke stasiun tujuan. Pada jam 07.00 WIB sampailah di tujuan Stasiun Singasari. Karena jam buka candi di Google jam 08.00 WIB, saya pun menunggu di dalam stasiun sembari mencharge handphone. Jam kemudian menujukkan pukul 08.00 W...